Minggu, 28 Februari 2010

Sang juara

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu karena ini adalah babak final. Hanya tersisa empat orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak yang bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam empat anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah memang mobil itu tidak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun Mark bangga dengan semua itu karena mobil itu adalah buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan, final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan telah siap empat mobil dengan empat "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah di antaranya.

Namun sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu semenit kemudian ia berkata, "Ya, aku siap!"

Dor! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itupun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo... ayo... cepat... cepat... maju... maju..," begitu teriak mereka. Ahha... sang pemenang harus ditentukan. Tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap dan berkomat-kamit lagi dalam hati, "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya, "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?" Mark terdiam. "Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan," kata Mark.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya tak adil meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku hanya memohon pada Tuhan supaya aku tak menangis jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark tidak memohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark tak memohon pada Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang dan menyakiti yang lainnya. Namun Mark memohon pada Tuhan agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa agar diberikan kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan agar mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya dan panduan-Nya?

Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin Tuhan memberikan kita ujian yang berat bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah namun agar setiap kita menjadi kuat dan semakin mengandalkan Dia.GBU
Selengkapnya...

Sabtu, 27 Februari 2010

Kisah nyata - Kebesaran jiwa seorang ibu

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic.

Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”.

Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu. Jangan sia-sia kan budi jasa ibu selama ini yang merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih. kasih seorang ibu sungguh mulia.
Selengkapnya...

Jumat, 26 Februari 2010

Katakan cinta sebelum terlambat

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat2 mereka sedang asyik bercanda ria dengan kekasih mereka masing2.

Tina : “Duh, bosen banget. Gw jg mau punya pacar yg bisa berbagi waktu sama gw. “

Peter : “Kayak nya tinggal kita berdua doang deh yang jomblo. Cuma kita berdua aja yg ga punya pasangan.”

(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina : “Kayaknya gw ada ide bagus nih. Kita adain permainan yuk? “

Peter : “Eh? Permainan apaan?”

Tina : “Enngg... Gampang sih permainannya, gw jdi pacar lu, dan lu jadi pacar gw, tapi hanya untuk 100 hari aja. Gimana? Mau ga? “

Peter : “ Oke... lagian gw jg ga ada rencana apa-apa buat bbrp bulan ke depan.”

Tina : “ Kok lu ga tlalu niat sih.. Semangat dong! Hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan2 kemana nih? “

Peter : “Gimana kalo kita nonton aja? Kalo gak salah film Seven Pounds lagi maen ya? Katanya bagus tuh”

Tina : “Oke deh.. Yuk kita pergi sekarang. Ntar pulang nonton, kita ke karaoke ya.. ajak adik kamu sama pacar nya, biar seru “

Peter : “Boleh juga. Double date nih.. “

(merekapun pergi menonton, berkaraoke dan Peter mengantar Tina pulang malam hari nya)


Hari ke 2 :
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe yang remang2 dan alunan musik yg syahdu membawa hati mereka pada situasi yg romantis. Sebelum pulang Peter membelikan sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke mall untuk mencari kado buat sahabatnya Peter. Setelah berkeliling mall, mereka memutuskan untuk membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat, duduk di food court, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling bersama teman2 Peter. Tangan Tina sakit karena tidak terbiasa bermain bowling. Peter memijit2 tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan seuara gelombang pantai. Sekali lagi, Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yg timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yg terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahun.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama, dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy untuk Tina, dan Tina membelikan Peter sebuah pulpen.

Hari ke 72:
Pergi ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang.” Kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempaskan kaki mereka. matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15.20 pm
Tina : “Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar.”

Peter : “Tunggu di sini, aku yang beli aja minumannya. Kamu mau minum apa? Aku teh botol aja ah.”

Tina : “Aku aja yg beli. Kamu kan capek udah nyetir keliling kota hari ini. Bentar ya”

Peter mengangguk. Kakinya memang pegal sekali karena dmn2 Jakarta selalu macet.

15.30pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit dan Tina belum juga kembali. Tiba2 seseorang yg tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.

Peter : “Ada apa, Pak?”

Orang asing : “Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayak nya perempuan itu temanmu”

Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yg panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera mengambil mobilnya dan melarikan Tina ke rumah sakit terdekat. Peter duduk diluar ruangan ICU selama 8 jam. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.


23.53pm
Dokter : “Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yg terbaik, dia masih bernafas sekarang, tapi Yang Kuasa akan segera menjemputnya. Kami menemukan surat ini dalam kantongnya.”

Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan Peter segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan Tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan torehan luka yg sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.


Dear Peter
Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir...
Aku menikmati hari2 yg kulalui bersamamu
Walaupun kadang2 kamu jutek dan tidak bisa ditebak
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku...
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yg berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa2 hanya berharap kita bisa memperpanjang hari2 kebersamaan kita.
Sama seperti yg kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai, aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku.
Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada di sisiku seumur hidupku.
Peter, aku sangat sayang padamu


23.58 pm
Peter : “Tina, apakah kau tau harapan apa yg aku ucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Akupun berdoa adar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kamu tidak bisa meninggalkanku! Hari yg kita lalui baru berjumlah 99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Tina, aku sayang padamu....!!”

Jam dinding berdentang 12 kali..... Jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...!
Selengkapnya...

Kamis, 25 Februari 2010

Kisah cinta seorang anak

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”
Selengkapnya...

Rabu, 24 Februari 2010

Sang juara

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu karena ini adalah babak final. Hanya tersisa empat orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak yang bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam empat anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah memang mobil itu tidak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun Mark bangga dengan semua itu karena mobil itu adalah buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan, final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan telah siap empat mobil dengan empat "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah di antaranya.

Namun sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu semenit kemudian ia berkata, "Ya, aku siap!"

Dor! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itupun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo... ayo... cepat... cepat... maju... maju..," begitu teriak mereka. Ahha... sang pemenang harus ditentukan. Tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap dan berkomat-kamit lagi dalam hati, "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya, "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?" Mark terdiam. "Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan," kata Mark.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya tak adil meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku hanya memohon pada Tuhan supaya aku tak menangis jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark tidak memohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark tak memohon pada Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang dan menyakiti yang lainnya. Namun Mark memohon pada Tuhan agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa agar diberikan kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan agar mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya dan panduan-Nya?

Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin Tuhan memberikan kita ujian yang berat bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah namun agar setiap kita menjadi kuat dan semakin mengandalkan Dia.GBU
Selengkapnya...

Selasa, 23 Februari 2010

Kado terindah di hari Natal

“Kamu tuh terlalu sibuk sama kerjaan kamu, kamu ga pernah peduli sama anak-anak, meeting lah, keluar kota lah, ada aja alasan yang kamu buat,”
“Tapi aku emang beneran sibuk sama kerjaan aku mah….mamah ini ga pernah ngerti sama kerjaan papah, aku nyesel punya istri kaya kamu,”
“Apa? Jadi sekarang kamu mau nya apa?”
“Oke, mulai sekarang kita bubar, biar sheila ikut papah dan Bela ikut dengan mamah,”
Itulah percakapan antara kedua orang tua Bela yang membuat Bela berpisah dengan ayah dan kakak nya, ia sangat merindukan mereka. Kini ia sedang merenung, duduk seorang diri di balkon rumah nya. Ia tidak lagi punya kawan buat bercanda dan bersuka cita setelah dua tahun yang lalu kedua orang tua nya bercerai, padahal dua hari lagi akan tiba hari natal ia ingin sekali bertemu dengan kakak nya.
“Bela…kamu belum tidur?” teriak mamah nya bela dari lantai bawah.
“Belum mah, aku belum ngantuk,”
“Tidur dong sayang, besok kan kita mau belanja barang-barang buat natal,”
“Iya mah sebentar lagi,” sungguh malam yang sangat berat bagi Bela, ia sangat merindukan malam natal bersama keluarga nya seperti dahulu kala saat mereka masih bersama.
“Papah….kakak…..Bela kangen kalian, ya Tuhan aku tahu kau maha mendengar dan kau pasti mau mengabulkan do’a ku ini, aku mohon kepada-Mu satukanlah kami seperti dahulu,”
Di tempat yang berbeda yaitu di Apartemen tempat di mana papah dan kakak Bela tinggal sedang diadakan makan malam bersama rekan-rekan kerja papah nya, Sheila juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Bela, ia hanya mengurung diri di kamar nya gak peduli dengan keramaian yang terjadi di luar kamar nya.
Ia mencoba menelepon adik nya, namun sayang tidak ada nomor Bela yang bisa dihubungi di ponselnya, mereka memang sudah lose contact sejak lama, ia beranjak ke luar kamar dan menatap keramaian kota Jakarta dan indah nya langit dimalam hari dari apartement nya.
“Mamah….adik….kalian seperti bintang di langit, aku tahu kalian begitu jauh dan tak terjamah oleh ku, namun keberadaan kalian bisa aku rasakan dan pancaran sinar kalian mampu menerangi malam-malam ku yang sunyi dan sepi……..bintang, sampai kan rasa rindu ku ini pada mereka. angin malam, sejuk kan lah hati mereka dan jagalah tidur mereka dari mimpi buruk yang dapat mengganggu tidur mereka,” hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan rasa rindu nya.
Hari natal tinggal sehari lagi, seperti biasanya anak-anak menulis permintaan mereka di selembar kertas kecil lalu di masukkan ke kantung permintaan yang berbentuk kaus kaki Santa. Sebelum menulis mereka membaca do’a kepada Allah agar permintaan mereka dikabulkan, begitu juga dengan Bela dan Sheila. selesai menuliskan permintaan nya Bela melipat kertas tersebut dan ia masukkan ke dalam kaus kaki Santa dengan penuh harapan, Sheila juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bela.
Saat tengah malam Mamah Bela mengambil kertas yang sudah dituliskan sebuah permintaan dari Bela, setelah membuka lipatan kertas tersebut, ia sangat terkejut dan sedikit meneteskan air mata.
“Aku gak menginginkan apapun di hari natal ini, aku ga butuh barang-barang mewah atau pun yang lainnya, aku Cuma menginginkan satu. Yaitu keluarga kita bisa berkumpul bersama lagi seperti dahulu kala, bukan hanya dihari yang kudus ini tetapi untuk selamanya” begitulah isi permintaan yang dituliskan Bela.
Tidak lama kemudian mamah langsung menelepon mantan suami nya, kebetulan ia masih menyimpan nomor HP mantan suami nya itu.
“Haloo…selamat malam, dengan siapa ya?”
“Dimas ini aku Angel, mantan istri mu,”
“Ada perlu apa kamu menelpon ku tengah malam begini?”
“Maaf kalau aku mengganggu, tapi aku Cuma ingin menyampai kan permintaan Bela di hari natal,”
“Kenapa kamu harus menelepon aku, memang kamu sudah tidak mampu untuk membelikan sesuatu untuk nya,”
“Dimas, dia bukan meminta barang atau benda yang lain nya, ia hanya ingin kita bisa kembali seperti dulu lagi,”
“Apa? Maaf aku gak bisa,”
“Tapi, Dimas….” Ternyanta telepon nya sudah di putus oleh nya, Mamah pun hanya bisa menangis karena bingung harus berbuat apa.
Saat hari natal tiba, Bela dan Mamah nya pergi ke gereja dengan wajah yang muram, sungguh hari natal yang sangat menyedihkan bagi mereka, selesai merayakan natal di gereja mereka lekas kembali ke rumah tidak ada perubahan di raut wajah mereka, hiasan-hiasan natal, kue-kue yang sudah tertata rapi di atas meja dan pohon natal yang sudah berdiri kokoh dengan hiasan-hiasan nya tidak mampu mengembalikan senyum mereka.
“Suatu saat kita pasti bisa bersama lagi, kamu harus yakini itu sayang,” hanya itu yang bisa mamah katakan kepada Bela, mereka pun saling berpelukan dengan air mata yang membashi pipi.
Satu jam kemudian, ada tamu yang datang ke rumah mereka, dan mereka sangat terkejut dengan kehadiran tamu tersebut, ternyata yang datang adalah papah dan kakak nya Bela.

“Papah….kakak….aku kangen…..” kedua bersaudara itu lsngsung berpelukan erat.
“Ternyata Sheila juga menuliska permintaan yang sama seperti Bela, mungkin cuma ini yang bisa membuat mereka tersenyum kembali,” Papah juga segera memeluk mamah, tidak bisa dipungkiri kedua nya memang masih saling cinta.
“Mamah…papah,kita akan menjadi satu keluarga lagi kan?” Bela dan Sheila segera memaksa kedua orang tua nya untuk segera menjawab pertanyaan mereka.
“Sayang…papah gak bisa. Papah gak bisa lagi pisah dari mamah dan Bela,” jelas papah.
“Maksud nya pah?” Sheila bingung
“Jadi mulai sekarang kita akan menjadi satu keluarga lagi,” mamah menegas kan kepada anak-anak nya, mereka pun tetawa bahagia tak terlihat lagi kesedihan di wajah mereka.
“Kan sekarang kita sudah berkumpul lagi, papah pingin kalian minta satu permintaan lagi,”
“Hmm….apa ya?” dengan kompak nya mereka menjawab, “Punya adik baru…..” mereka kini bisa tertawa bersama seperti sebelum perceraian itu. Sungguh sebuah keajaiban dihari yang penuh kasih.

Selengkapnya...

Senin, 22 Februari 2010

diterjemahkan dari versi aslinya “the Story of The One-Eyed Mother

Ibuku hanya memiliki satu mata, sedang mata yang satunya cacat. Aku membencinya… dia sungguh membuatku menjadi sangat memalukan. Dia bekerja memasak buat para murid dan guru di sekolah… untuk menopang keluarga.

Ini terjadi pada suatu ketika aku duduk di sekolah dasar dan ibuku datang. Aku sungguh dipermalukan. Bagaimana bisa ia tega melakukan ini padaku? Aku membuang muka dan berlari meninggalkannya saat bertemu dengannya.

Keesokan harinya di sekolah…
“Ibumu bermata satu?!?!?…. eeeee ejek seorang teman. Akupun berharap ibuku segera lenyap dari muka bumi ini.

Jadi kemudian aku katakan pada ibuku, “Ma… kenapa engkau hanya memiliki satu mata?! Kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang , kenapa engkau tidak segera mati saja?!!!??

Ibuku diam tak bereaksi. Aku merasa tidak enak, namun disaat yang sama, aku rasa aku harus mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini…
Mungkin ini karena ibuku tidak pernah menghukumku, akan tetapi aku tidak berfikir kalau aku telah sangat melukai perasaannya.

Malam itu…Aku terjaga dan bangun menuju ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Ibuku sedang menangis disana terisak-isak, mungkin karena khawatir akan membangunkanku. Sesaat kutatap ia, dan kemudian pergi meninggalkannya.

Setelah aku mengatakan perasaanku sebelumnya padanya, aku merasa tidak enak dan tertekan. Walau demikian, aku benci ibuku yang menangis dengan satu mata.

Jadi aku bertekad untuk menjadi dewasa dan menjadi orang sukses . Kemudian aku tekun belajar. Aku tinggalkan ibuku dan melanjutkan studiku ke Singapore. Kemudian aku menikah. Aku membeli rumahku dengan jerih payahku. Kemudian, akupun mendapatkan anak-anak, juga.

Sekarang aku tinggal dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggal ini karena tempat ini dapat membantuku melupakan ibuku.

Namun pada suatu hari, ada seseorang tamu mengetuk pintu rumahku. Setelah kubuka, aku sangat terkejut sekali. Ini adalah ibuku… Masih dengan mata satunya. Aku merasa seolah-olah langit runtuh menimpaku.

Bahkan anak-anakku lari ketakutan melihat ibuku yang bermata satu.
Aku bertanya padanya, “Siapa kamu?!. Aku tidak mengenalmu!!!?? kukatakan seolah-olah itu benar.

Aku memakinya, “Berani sekali kamu datang ke rumahku dan menakut-nakuti anak-anakku! KELUAR DARI SINI!! SEKARANG JUGA!!!??.

Ibuku hanya menjawab, “Oh, maafkan aku. Aku mungkin salah alamat.? Kemudian ia berlalu dan hilang dari pandanganku.
Oh syukurlah… Dia tidak mengenaliku. Aku agak lega. Kukatakan pada diriku kalau aku tidak akan khawatir, atau akan memikirkannya lagi. Dan akupun menjadi merasa lebih lega…

Suatu hari, sebuah undangan menghadiri reuni sekolah dikirim ke alamat rumahku di Singapore. Jadi, aku berbohong pada istriku bahwa aku akan melakukan perjalanan dinas. Setelah menghadiri reuni sekolah, aku mengunjungi sebuah gubuk tua, dulu merupakan rumahku… Hanya sekedar ingin tahu saja.
Di sana , aku mendapati ibuku terjatuh di tanah yang dingin. Tapi aku tidak melihatnya mengeluarkan air mata.

Ia memegang selembar surat ditangannya… Sebuah surat untukku.

“Anakku…Aku rasa hidupku cukup sudah kini… Dan… aku tidak akan pergi ke Singapore lagi…Tapi apakah ini terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau yang datang mengunjungiku sekali-kali?

Aku sungguh sangat merindukanmu…Dan aku sangat gembira ketika kudengar bahwa engkau datang pada reuni sekolah .

Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolahan. Demi engkau …Dan aku sangat menyesal karna aku hanya memiliki satu mata, dan aku telah sangat memalukan dirimu.

Kau tahu, ketika engkau masih kecil, engkau mengalami sebuah kecelakaan, dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan hanya memiliki satu mata.

Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu…
Aku sangat bangga akan dirimu yang telah dapat melihat sebuah dunia yang baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut.

Aku tidak pernah merasa marah dengan apa yang kau pernah kau lakukan… Beberapa kali engkau memarahiku…
Aku berkata pada diriku, ‘Ini karena ia mencintaiku …’

Pesan (di atas) ini sungguh memiliki sebuah arti yang sangat mendalam dan dikirim untuk mengingatkan banyak orang bahwa kebaikan yang telah mereka nikmati selama ini adalah berkat seseorang, entah secara langsung maupun tidak langsung.
Renungkan sesaat dan lihatlah dirimu!.

Berterima kasihlah akan apa yang kamu miliki saat ini dibandingkan dengan jutaan orang yang tidak memiliki kehidupan seperti yang engkau peroleh saat ini !
“Bawalah (selalu) ibumu dalam doa di mana saja engkau berada !
Selengkapnya...

Minggu, 21 Februari 2010

Kasih seorang Ayah kepada anaknya

Seorang pemuda sedang mempersiapkan kelulusannya dari kuliah. Setelah beberapa bulan dia mengagumi akan sebuah mobil sport yang indah di sebuah showroom, dan dia tahu bahwa ayahnya dapat menyediakan mobil tersebut, dia memberi tahu ayahnya akan semua yang ia inginkan.
Setelah hari kelulusan tiba, pemuda itu menunggu tanda bahwa ayahnya telah membeli mobil itu. Akhirnya, di pagi hari dari hari kelulusannya, ayahnya memanggil dia ke dalam ruang pribadinya. Ayahnya berkata betapa dia bangga karena dia mempunyai anak yang baik dan mengatakan bahwa ayah sangat menyayangi anaknya. Lalu, ayahnya memberikan sebuah kado yang dihias begitu indahnya.
Rasa ingin tahu dan sesuatu yang mengecewakan, pemuda itu membuka dan menemukan sebuah Alkitab yang mempunyai kover kulit. Dengan nama pemuda itu yang diukir diatas Alkitab tersebut dan dilapisi emas. Karena marah, dia berteriak kepada ayahnya dan berkata "Dengan semua uang ayah, ayah membelikan aku sebuah Alkitab?" dan dia pun segera keluar dari rumah.
Beberapa tahun berlalu dan pemuda itu menjadi orang yang sangat sukses dalam bisnisnya. Dia mempunyai rumah yang indah dan keluarga yang luar biasa, akan tetapi dia sadar bahwa ayahnya telah tua dan sebaiknya dia pergi ke ayahnya. Pemuda tersebut tidak pernah bertemu ayahnya lagi sejak hari kelulusan itu.
Sebelum dia menyusun rencananya tersebut, dia menerima sebuah telegram yang memberitahu bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan memberikan semua warisannya kepada anaknya. Dia perlu untuk ke rumah ayahnya secepatnya dan merawat beberapa benda peniggalan ayahnya.
Ketika dia sampai di rumah ayahnya, tiba-tiba kesedihan dan penyesalan mengisi hatinya. Dia memulai mencari kertas2 penting pemberian ayahnya dan melihat Alkitab yang masih terbungkus kado, yang dia tinggalkan beberapa tahun yang lalu. Dengan menetaskan air mata, dia mulai membuka Alkitab itu dan mulai membalikkan halaman2 tersebut. Ayahnya telah menggarisbawahi sebuah kalimat yang berbunyi "And if ye, being evil, know how to give good gifts to your children, how much more shall your Heavenly Father which is in Heaven, give to those who ask Him?"
Setelah membaca beberapa firman, sebuah kunci mobil terjatuh dari halaman belakang dari Alkitab tersebut. Kunci ini mempunyai gantungan yang berisi nama orang yang membeli mobil tersebut, pembeli yang sama yang menginginkan mobil tersebut. Di gantungan tersebut juga tertulis tanggal kelulusannya, dan tulisan TERBAYAR LUNAS.
berapa kali kita sudah menghilangkan waktu untuk menerima berkat Tuhan karena kita tidak bisa melihat keputusan lalu kita?

Selengkapnya...

Sabtu, 20 Februari 2010

Kerinduan hati seorang anak

Adalah seorang Bapak yang berprofesi sebagai pengusaha. Setiap hari Bapak ini harus menyeberang sungai dengan sebuah kapal kecil untuk menuju ke kantornya. Sebelum pergi, biasanya ia mampir di sebuah kedai yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan itu untuk minum kopi. Di sekitar kedai itu ada beberapa anak kecil yang menawarkan jasa semir sepatu kepada pria-pria yang sedang duduk menikmati hangatnya kopi pagi.

Bapak inipun memanggil seorang anak kecil untuk menyemir sepatunya. "Nak, mari datang kemari. Tolong semirkan sepatu Bapak ya?" Anak kecil itupun datang menghampiri Bapak ini dan dengan penuh semangat mulai menyemir sepatunya. Dari mata anak itu terpancar betapa senangnya ia melakukan pekerjaan itu untuk Bapak ini. Setelah selesai, sejumlah uangpun diberikan kepadanya, dan anak itu mengucapkan terima kasih.

Keesokan harinya, ketika Bapak ini baru saja turun dari kapal kecil yang ditumpanginya, dari kejauhan anak itu segera berlari mendapatkan Bapak ini. Dengan senang hati ia membantu membawa tas Bapak ini sampai ke kedai kopi. Sementara Bapak ini menikmati hangatnya kopi pagi, anak kecil itu menyemir sepatunya sampai mengkilap. Seperti biasanya, setelah anak itu selesai menyemir sepatu, Bapak ini kemudian memberikan sejumlah uang kepadanya.

Kejadian ini terus saja berulang sampai suatu pagi terjadi suatu hal yang tidak seperti biasanya. Pagi itu, ketika anak kecil ini melihat sang Bapak turun dari kapal, dengan sekuat tenaganya ia berlari mendapatkannya dan membawa tasnya sampai ke kedai kopi. Ia membuka sepatu Bapak ini dengan tangannya sendiri dan kemudian menyemir sepatunya sampai mengkilap. Dari sorot matanya yang polos, ia melakukannya dengan penuh antusias. Setelah selesai, Bapak ini kemudian mengeluarkan sejumlah uang dari kantongnya untuk memberikannya kepada anak itu. Tapi reaksinya sungguh berbeda. Anak itu menolak pemberian Bapak ini.

Bapak ini kaget. ‘Apa yang terjadi? Apa ia tidak membutuhkan uang?', tanya Bapak itu dalam hatinya. Kemudian dengan lembut Bapak ini bertanya sambil menatap wajah anak itu, "Nak, kenapa kamu tidak mau mengambil uang ini? Apakah kamu tidak membutuhkannya?" Dengan mata berkaca-kaca anak kecil tersebut menjawab, "Pak, saya ini anak yatim piatu. Saya hidup di jalanan. Kedua orang tua saya sudah lama meninggal. Saya belum pernah merasakan bagaimana kasih sayang orang tua. Tetapi ketika kita pertama berjumpa dan Bapak memanggil saya dengan sebutan, ‘Nak, mari datang kemari', sewaktu Bapak memanggil saya ‘Nak', saya merasa seperti anak Bapak. Saya merasa memiliki ayah lagi. Oleh sebab itu saya tidak mau lagi mengambil uang yang Bapak berikan kepada saya. Mulai sekarang, tidak ada satupun yang tidak ingin saya buat bagi Bapak. Semuanya saya mau lakukan untuk menyenangkan hati Bapak."

Kemudian sambil menangis, sambil memegang bahu anak itu dan memandang wajahnya, Bapak itu bertanya, "Nak, maukah mulai saat ini juga kamu tinggal bersama saya dan menjadi anak saya?" Sambil memeluk erat Bapak itu anak ini menjawab, "Ya, Pak. Saya mau!"

Bukankah demikian dengan kita?
Ketika kita sebagai anak yang terhilang, Tuhan datang sebagai Bapa yang baik menghampiri dan memanggil kita,
"Nak, mari datang kemari!"

Saat suara itu memanggil, kita merasakan kembali kasih Bapa.
Ketika kita merasakan kasihNya yang besar, kasih tanpa batas dan tanpa syarat itu,
kasih Bapa itu pula yang dapat membuat kita berkata seperti anak kecil itu,
"Mulai sekarang, tidak ada satupun yang tidak ingin saya buat bagi Bapak.
Semuanya saya mau lakukan untuk menyenangkan hati Bapak."



MET BERAKTIFITAS YACH^^GBU
Selengkapnya...

Jumat, 19 Februari 2010

Kasih Kristus melenyapkan ketakutan

Dikisahkan, suatu hari, Bunda Teresa berkeliling dari gang ke gang di kampung-kampung Calcutta.

”Bunda Teresa!” , teriak seorang pengemis
yang sambil menggesotkan kakinya mendekat pada Bunda Teresa.

”Ini untukmu. Aku ingin memberikannya padamu,”
kata pengemis itu sambil memberikan semangkuk uang receh rupee hasil jerih payahnya mengemis hari itu.

Mother Teresa menolak halus dan berkata,”Mengapa, Bu? Bukankah ini untuk makan ibu hari ini?”

Pengemis itu memandang Bunda Teresa dengan mata berkaca-kaca.
Dia memang belum makan dari pagi.
Teresa memperhatikan baju yang lusuh dan kulit berbalut tulang yang berlutut di depannya.
Bunda Teresa mendekat.

”Tapi, Bunda”, bujuk pengemis itu, ” ada yang jauh lebih menderita dri pada aku.
Terimalah, Bunda. Berikan uang ini kepadanya.”, kata si pengemis itu penuh harap.

Bunda Teresa tidak berani menolak. ”Baik,baik. Aku terima. Terimakasih”,
ucap Bunda Teresa, menepuk bahu pengemis itu,tanda menghargai jerih payahnya.

Satu pesan dia tangkap dari hadiah sang pengemis itu.
Betapa ia memberikan hartanya dengan segala cinta demi membahagiakan orang lain.
Inilah mencintai sampai terluka.
To love till it's hurt.
Pengemis itu tidak mengindahkan keringat, keletihan dan luka goresan di jalanan berdebu dan panas,
yang dialaminya hari itu.
Ia memberikan dengan cintanya.

Hal sama yang kita temui dalam kisah janda miskin pada Markus 12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya,
tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Di dalam dunia yang keras, penuh keegoisan, hanya mementingkan diri sendiri dan penuh dengan ketiadaan kasih karunia,
PESAN KASIH di atas harus bergema dan diteruskan oleh kita, tak perduli berapa besar luka yang kita diterima, sesak rasa nyeri di dada dan tetes air mata yang telah kering.
Semuanya tak sebanding dengan KASIH KARUNIA yang telah dilimpahkan Bapa di surga.

Di saat Yesus berkata dalam Mat. 22:39 Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,
Ia bukan hanya memerintahkan, tetapi juga menjadi contoh yang hidup.
Ia Tuhan yang begitu besar kasihnya kepada manusia sehingga rela mencintai sampai TERLUKA.

Saat ditanya berapa besar kasihNYA kepada kita, Ia hanya terdiam, lalu membuka tanganNYA dan mati di kayu salib.
Yesus memberikan nyawa dan kehormatan diri-Nya, untuk mati di kayu salib; sebuah simbol penghinaan terbesar di zaman itu.
Namun KASIH NYA TETAP, menghasilkan sebuah daya hidup dan menyembuhkan, yang terus
berpengaruh sepanjang zaman sampai kekal selamanya, tiada berkesudahan.
Amin.


Selamat mencinta, selamat terluka.



MET BERAKTIFITAS^^GBU
Selengkapnya...

Kamis, 18 Februari 2010

Rasa kecewa

“Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku” (Yohanes 16:1).

Andi merupakan salah satu aktivis dari sebuah gereja di kota Bandung. Dia aktif melayani dalam bidang musik. Setiap ibadah Minggu dia selalu tampil mengiringi musik di gerejanya. Terkadang pada hari Minggu dia harus melayani tiga kali. Namun belakangan ini dia tidak nampak batang hidungnya. Selidik punya selidik ternyata penyebabnya karena dia merasa kecewa terhadap sikap gembala sidangnya.
Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi pada diri Andi selaku aktivis gereja. Terkadang, seorang hamba Tuhan pun mengalami perasaan kecewa. Misalnya kecewa terhadap kebijaksanaan sinodenya. Hal seperti ini manusiawi. Sebab hamba Tuhan pun memiliki keterbatasan.

Kecewa berarti kecil hati, tidak senang, atau tidak puas karena tidak terkabul keinginan atau harapannya. Orang bisa menjadi kecewa disebabkan berbagai hal seperti: tidak terima terhadap teguran, merasa tidak dihargai pendapatnya, tidak lagi mendapat perhatian (diabaikan), diperlakukan secara tidak adil, dan sebagainya. Sikap yang nampak dari orang-orang yang kecewa biasanya dia akan cenderung pasif, tidak bergairah, lebih memilih mundur, atau menunjukkan sikap pemberontakkan.
Perasaan kecewa ini bila dibiarkan akan berdampak buruk, baik secara fisik maupun kejiwaan. Secara fisik orang-orang yang kecewa akan menunjukkan muka yang muram (tidak ada sukacita), berpikiran negatif, dan mudah menyalahkan orang lain. Secara kejiwaan, dia akan stres dan frustrasi. Bila dibiarkan bisa menimbulkan sakit penyakit. Bahkan, hal yang sangat disayangkan adalah ada orang-orang tertentu yang karena kecewa sampai menyalahkan Tuhan. Menganggap Tuhan tidak adil dan jahat (sebab orang yang dikasihinya meninggal).
Bila tidak ada pemberesan, maka orang-orang yang kecewa ini akan pergi menyebarkan rasa kecewanya kepada orang-orang yang tergabung dalam komunitasnya. Bila dia pindah gereja, maka dapat dipastikan bahwa di tempat yang baru pun dia akan merasa kecewa, sebab ternyata di tempat yang baru pun dia dikecewakan lagi. Memang, di dalam gereja pun terdapat berbagai kekurangan. Gembala sidang juga kan manusia biasa. Masalahnya adalah bagaimana sikap seseorang apabila mengalami perlakuan yang bisa membuatnya kecewa. Apakah terlarut dalam rasa kecewanya ataukah mau melupakan dan mau berbesar hati menerima apa yang sudah diputuskan.

Sikap yang tepat untuk mengatasi rasa kecewa yaitu berdamai dengan Tuhan. Hal ini menyangkut hati. Minta Tuhan untuk memulihkan hati yang kecewa tersebut, agar digantikan dengan sukacita dan damai sejahtera. Kedua, tetap mengucap syukur. Biasanya orang-orang yang kecewa susah mengucap syukur. Ucapan syukur dapat mengubah rasa kecewa menjadi damai sejahtera. Bila kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah ucapan syukur, maka hati pun akan gembira. Dan hati yang gembira adalah obat yang manjur. Ketiga, tidak mempersalahkan siapa-siapa. Bila dikecewakan dengan gembala, jangan salahkan gembalanya. Sebab yang terpenting bukan soal benar atau salahnya, tapi bagaimana seseorang meresponinya. Respon yang salah bisa berakibat salah, meski orang tersebut benar. Jadi penting untuk tetap menjaga sikap yang baik.

Memang, bila mengandalkan kekuatan sendiri sepertinya tidak bisa. Tapi dengan pertolongan Roh Kudus, pasti mampu. Jangan biarkan iblis mengambil keuntungan atas hidup kita karena rasa kecewa tersebut. Masa karena keinginannya tidak terlaksana sampai mundur bahkan menyalahkan Tuhan.GBU
Selengkapnya...

Rabu, 17 Februari 2010

Tujuan teladan Kristus di dalam penderitaan

Ketika di dalam kehidupan nyata umat kristen menemui berbagai penghinaan dan ketidak adilan karena mempertahankan iman kekristenan, maka ada tujuh teladan yang dapat kita ikuti agar kesabaran dan kerendahan hati berlimpah dalam kehidupan :

1. Penderitaan-penderitaan
"sebab untuk itulah kamu dipanggil , karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejak-NYA". (1 Petrus 2:21) karena ... "Lalu Yesus berkata kepada murid2-NYA : Setiap orang yang mau mengikuti AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut AKU".

YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa IA telah menerima penderitaan2 sebelum kita dan kita sebagai umat pengikut KRISTUS juga akan menderita karena YESUS. Tidak perlu kita merasa sakit hati, YESUS menderita lebih dari kita dan IA telah menunjukkan kasih-NYA kepada orang yang mengakibatkan penderitaan maka kita juga tidak perlu sakit hati dan menunjukkan kasih pada mereka.

2. Tidak berdosa
"orang menempatkan kuburnya diantara orang-orang fasik, dan dalam mati-NYA IA ada diantara penjahat2, sekalipun IA tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulut-NYA". lalu dikuatkan oleh surat 1 Petrus 2:22 "IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".

YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa meskipun penderitaan menghampiri kita, maka kita sebagai umat KRISTUS tetap menjaga hati dan pikiran kita agar tidak berdosa. YESUS adalah TUHAN, kita adalah manusia yg tak lepas dari dosa, maka dengan berdoa dan mengucap syukur, TUHAN akan menjaga kita dari dosa2 dunia.

3. Tidak pernah menipu
"IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".(1 Petrus 2:22).

Hendaknya kebenaran ada dalam diri kita meskipun penderitaan menghampiri, sama seperti YESUS tidak pernah berbicara kebohongan ketika dianiaya dan disalib.

4. Tidak pernah membalas pada saat dicaci maki
"Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk" (Roma 12:14) dikuatkan oleh perkataan YESUS sendiri "Tetapi AKU berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikian kamu menjadi anak2 BAPA-mu di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar". (Matius 5:44-45).

hal tidak membalas caci maki merupakan hal yang paling berat untuk dilakukan sebagai umat manusia. sebagai manusia biasa kita selalu tergoda untuk membalas segala sakit hati kepada mereka. namun dengan keteguhan dan ketekunan hati, YESUS telah merubah sakit hati tersebut menjadi kebahagiaan yang utuh tak kurang suatu apapun melalui satu ujian (ujian kerendahan hati).

5. Sabar di dalam ancaman
"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa". (Roma 12:12) karena YESUS sendiri mengatakan "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu". (Lukas 21:19)

Teladan bersabar di dalam ancaman merupakan esensi dalam ajaran kristen yaitu YESUS menunjukkan kasih-NYA kepada musuhnya dan kehidupan yang dijanjikan-NYA adalah kehidupan kekal. begitu indah dan abadi.

6. Menyerahkan segala hal kepada ALLAH
"Ketika IA dicaci maki, IA tidak membalas dengan mencaci maki, ketika IA menderita IA tidak mengancam, tetapi IA menyerahkan kepada DIA yang mengadili dengan adil". (1Petrus 2:23)

Ketika manusia terjebak dalam pederitan yang tiada habisnya, maka satu teladan yang patut kita contoh dari YESUS adalah menyerahkan segala perkara kita kepada TUHAN karena IA yang empunya hidup akan menyelesaikan segalanya dengan adil. maka jangan takut berada dalam penderitaan karena kita umat kristen mempunyai ALLAH yang kuat, ALLAH yang hidup, ALLAH yang adil.

7. Kebenaran dalam Iman
"IA sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-NYA di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa , hidup untuk kebenaran. Oleh bilur2-NYA kamu telah sembuh". (1Petrus 2:24)

Penebusan dosa yang dilakukan YESUS adalah inti kebenaran pengajaran-NYA, kebenaran yang mutlak, kebenaran yang tidak terbantahkan supaya kita sebagai umat kristen tidak sia-sia mempercayai YESUS adalah juru selamat manusia dan kita menerima anugerah keselamatan abadi dan bukan kematian kekal.

KASIH KARUNIA TUHAN YESUS MENYERTAI SAUDARA SEKALIAN !


GBU^^
Selengkapnya...

Selasa, 16 Februari 2010

Tuhan dan pengembara

Ada seorang pengembara yang sangat ingin melihat pemandangan yang ada di balik suatu gunung yang amat tinggi. Maka disiapkanlah segala peralatannya dan berangkatlah ia. Karena begitu beratnya medan yang harus dia tempuh, segala perbekalan dan perlengkapannya pun habis. Akan tetapi, karena begitu besar keinginannya untuk melihat pemandangan yang ada di balik gunung itu, ia terus melanjutkan perjalannya.

Sampai suatu ketika, ia menjumpai semak belukar yang sangat lebat dan penuh duri. Tidak ada jalan lain selain ia harus melewati semak belukar itu.

Pikir pengembara itu : "Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti akan robek dan penuh luka. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan ini."

Maka pengembara itupun mengambil ancang-ancang dan ia menerobos semak itu. Ajaib, pengembara itu tidak mengalami luka goresan sedikitpun.

Dengan penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan perjalanan dan berkata dalam hati "Betapa hebatnya aku. Semak belukarpun tak mampu menghalangi aku."

Selama hampir 1 jam lamanya ia berjalan, tampaklah di hadapannya kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lain selain dia harus melewati jalan itu.

Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya : "Jika aku melewati kerikil ini, kakiku pasti akan berdarah dan terluka. Tapi aku tetap harus melewatinya."

Maka dengan segenap tekadnya, pengembara itu berjalan. Ajaib, ia tak mengalami luka tusukkan kerikil itu sedikitpun dan tampak kakinya dalam keadaan baik-baik saja.

Sekali lagi ia berkata dalam hati : "Betapa hebatnya aku. Kerikil tajampun tak mampu menghalangi jalanku."

Pengembara itupun kembali melanjutkan perjalanannya. Saat hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan. Batu-batu besar dan licin menghalangi jalannya, dan tak ada jalan lain selain dia harus melewatinya.

Pikir pengembara itu untuk yang ketiga kalinya : "Jika aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti akan tergelincir dan tangan serta kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai di puncak itu. Aku harus melewatinya."

Maka pengembara itupun mulai mendaki batu itu dan ia.. tergelincir. Aneh, setelah bangkit, pengembara itu tidak merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada satupun tulangnya yang patah.

"Betapa hebatnya aku. Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi jalanku."

Maka, iapun melanjutkan perjalanan dan sampailah ia di puncak gunung itu. Betapa sukacitanya ia meihat pemandangan yang sungguh indah dan tak pernah ia melihat yang seindah ini.

Akan tetapi, saat pengembara itu membalikkan badannya, tampaklah di hadapannya sosok manusia yang penuh luka sedang duduk memandanginya. Tubuhnya penuh luka goresan dan kakinya penuh luka tusukan dan darah. Ia tak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya.

Berkatalah pengembara itu dengan penuh iba pada sosok penuh luka itu : "Mengapa tubuhmu penuh luka seperti itu? Apakah karena segala rintangn yang ada tadi? Tidak bisakah engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun? Siapakah engkau sebenarnya?"

Jawab sosok penuh luka itu dengan tatapan penuh kasih : " Aku adalah Tuhanmu. Betapa hatiKu tak mampu menolak untuk menyertaimu dalam perjalanan ini, mengingat betapa inginnya engkau melihat keindahan ini. Ketahuilah, saat engkau harus melewati semak belukar itu, Aku memelukmu erat supaya tak satupun duri merobek kulitmu. Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya kakimu tidak tertusuk. Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku menopangmu dari bawah agar tak satupun tulangmu patah. Ingatkah engkau kembali padaKU?"

Pengembara itupun terduduk dan menangis tersedu-sedu. Untuk kedua kalinya, Tuhan harus menumpahkan darahNya untuk suatu kebahagiaan.

Kadang, kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai & melindungi kita. Kita lebih mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala rintangan tanpa menyadari bahwa Tuhan bekerja di sana. Dan sekali lagi, Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka, seperti Tuhan yang tak mampu menolak untuk menyertai anakNya, dapatkah kita juga tak mampu menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan tanganNya bekerja dalam hidup kita?

"..., Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:20
Selengkapnya...

Senin, 15 Februari 2010

Dosa dan pelayanan

Semakin lama melayani, semakin saya menemukan betapa kegelapan dosa melingkupi hati manusia. Bukan saja melingkupi hati mereka yang belum percaya, tetapi juga mereka yang sudah percaya. Bukan saja jemaat, tetapi juga mereka yang aktif melayani, para pemimpin gereja seperti majelis dan bahkan para ‘hamba Tuhan’ yang memiliki posisi sebagai pengajar Firman Tuhan.

Di dalam kesedihan, kadang-kadang saya bertanya sendiri bagaimana gereja bisa bertahan dengan orang-orang seperti itu? Bagaimana gereja tetap bisa bertumbuh dan ada orang-orang yang menerima berkat Tuhan, sekalipun kondisi para pelayan dan pemimpinnya seperti demikian?

Waktu merenungkan hal tersebut, ada beberapa hal yang muncul dalam pikiran saya:

Pertama, mungkin saya memandang dengan terlalu negatif. Mungkin betul bahwa hati para pelayan dan pemimpin gereja itu masih banyak dilingkupi kegelapan. Tetapi kalau mereka adalah orang percaya, bagaimanapun mereka bukan lagi anak-anak kegelapan tetapi anak-anak terang yang sedang terus dibentuk oleh Tuhan. Sehingga sekalipun ada bagian-bagian dalam hati mereka yang masih ‘gelap’, tetap ada anugrah Tuhan yang sedang bekerja dalam diri mereka, tetap ada bagian-bagian yang baik yang sudah dikerjakan oleh Tuhan. Tetapi di dalam kepicikan saya, bagian-bagian yang baik itu tidak terlihat lagi oleh saya.

Kedua, Tuhan bisa memakai siapa saja untuk gerejaNya. Jangankan anak-anakNya yang ‘bandel’, Firaun yang tidak mengenal Tuhan pun bisa dipakai. Maka sekalipun para pemimpin gereja dan para hamba Tuhan itu tidak percaya Tuhan, dan itu sangat mengerikan, tetapi Tuhan tetap bisa memakai mereka untuk gerejaNya.

Ketiga, saya mengingat kalimat Paulus “jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh! Jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran” (2 Kor 3:7-9). Di situ Paulus memang sedang menjelaskan perbedaan pelayanan dalam Perjanjian Lama yang hanya berupa hukum tertulis dengan pelayanan dalam Perjanjian Baru yang dikerjakan dengan kuasa Roh. Saya tergoda untuk menganalogikan kalimat itu dengan pelayanan dalam gereja. Kalau pelayanan yang dilakukan dengan sembarangan dan dengan hati yang jahat diberkati oleh Tuhan, betapa lebihnya lagi pelayanan yang dilakukan dengan murni oleh orang-orang yang sungguh mencintai Tuhan! Walaupun ini tidak selalu berarti jumlah orang yang lebih banyak, tetapi pasti berarti berkat rohani yang lebih besar.

Terakhir, makin saya merenungkan betapa sulitnya manusia memberikan hati sepenuhnya diterangi oleh Tuhan, makin saya melihat demikian pula diri saya. Kalau melihat kegelapan dalam hati orang lain seringkali mendukakan hati saya, maka lebih mendukakan lagi ketika melihat kegelapan itu dalam hati saya sendiri. Dan saya jadi berpikir bagaimana hati Tuhan? Betapa berdukanya Dia melihat pelayan-pelayanNya seperti ini.

Ah Tuhan, kasihani gerejaMu dan kasihani orang-orang yang menyebut diri pelayanMu!
Selengkapnya...

Minggu, 14 Februari 2010

Membeli waktu papa

Steven adalah seorang karyawan perusaah an yang cukup terkenal diJakarta, memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia 6 tahun bernama Leo dan putra ke dua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya di salah satu sudut Jakarta, setelah seharianpenuh bekeja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya diamelihat Leo putra pertamanya di temani bik Yati pembantunya menyambut digerbang rumah.

"Kok belum tidur Leo?" sapa Steven sambil mencium anaknya. Biasanya Leo sudah tider ketika Steven pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Steven berangkat ke kantor keesokan harinya.
"Leo menunggu Papa pulang, Leo mau tanya, gaji Papa itu berapa sih Pa?"
kata Leo sambil membuntuti papanya.
"Ada apa nih kok tanya gaji papa segala?"
"Leo Cuma pingin tahu aja kok Pah?
"Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa sehari di gaji Rp 600.000,-, nah selama sebulan rata-rata dihitung 25hari kerja. Nah berapa gaji papa sebulan?"
"Se hari Papa kerja berapa jam Pa?" tanya Leo lebih lanjut.
"Seha ri papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu."
Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoretco ret dalam kertasnya menghitung gaji papanya. Sementara Steven melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.
"Kalau begitu, satu bulan Papa di gaji Rp 15.000.000,-, ya Pah? Dan satu jam papa di gaji Rp. 60.000,-." Kata Leo setelah mencorat-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang beranjak menuju kamarnya.
"Nah, pinter kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu bobok." Perintah Steven, namun Leo masih saja membuntuti Steven sambil terus memandang papanya yang benrganti pakaian .
"Pah, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp. 5.000,- saja?" tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Leo, nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini.
Kalau mau uang besok saja, Papa kan capek mau mandi dulu. Sekarang Leo tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!"
"Tapi Pah.."
"Leooo !! Papa bilang tidur!"bentak Steven mengejutkan Leo.
Segera Leo beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo belum tidur. Leo sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal dengan bentakannya.

Dipegangnyalah kepala Leo pelan dan berkata: "Maafkan Papa ya nak. Papa sayang sekali pada Leo." ditatapnya Leo anaknya dengan penuh kasih sambil ikut berbaring di sampingnya.
" Nah katakan pada Papa, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besok kan bisa, jangankan Rp. 5.000,-, lebih banyak dari itupun akan Papa kasih."
"Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam. Nanti akan Leo kembalikan, kalau Leo udah menabung lagi dari uang jajan Leo."

"Iya, tapi untuk apa Leo?" tanya Steven dengan lembut.
"Leo udah menunggu Papa dari sore tadi, Leo nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo pingin ngajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo ingin beli waktu Papa."
"Lalu. " tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.

"Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp 25.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 60.000,-, maka untuk setengah jam berarti Rp. 30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin membeli waktu Papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular tangga. Leo rindu pada Papa." Kata Leo polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan.

"Steven terdiam, dan kehilangan kata-k ata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-e rat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kat a belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.
Selengkapnya...

Sabtu, 13 Februari 2010

Jadi pendengar yang baik

Bacaan hari ini: Yohanes 11: 31-36
11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.
11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

11:33. Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:
11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"
11:35 Maka menangislah Yesus.
11:36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"

Ayat mas hari ini: Roma 12:15
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 4-6

Saat menghadiri sebuah pemakaman, seorang ibu bermaksud baik ingin mengajak ngobrol sang istri yang sedang berduka karena suaminya meninggal. Namun, kenyataannya ia malah lebih menyusahkan. Ibu tersebut malah banyak bertanya, mulai tentang kondisi sang suami sebelum meninggal, apa penyakitnya, kapan meninggalnya, di mana, dan sebagainya.
Akibatnya, istri yang ditinggal oleh suaminya ini bukannya terhibur tetapi justru semakin sedih karena harus mengingat-ingat kembali tentang suaminya. Dalam buku Something Else to Smile About karya Zig Ziglar, terdapat sebuah kutipan unik: “Satu alasan mengapa anjing begitu menghibur ketika Anda sedih adalah karena ia tidak berusaha mencari tahu mengapa Anda sedih”. Sadar atau tidak, kadang kita tidak memberi diri untuk mendengar ketika teman kita berduka atau mengalami masalah, tetapi malah sibuk bertanya atau mengomentari.

Saat melihat Maria menangis, Yesus tidak lantas menghujani Maria dengan berbagai pertanyaan. Dia hanya bertanya, ”Dimanakah dia kamu baringkan?” Setelah itu Dia menangis bersama Maria (ayat 35). Dengan caranya itu, Yesus telah menunjukkan empati-Nya kepada Maria yang tengah dirundung kesedihan karena baru ditinggal Lazarus, saudaranya. Ya, dalam kepedihan dan derita kadang yang diperlukan bukan banyaknya kata-kata yang diucapkan, cukup empati dan simpati yang terwujud dalam kehadiran dan telinga yang mau mendengarkan.

Sudahkah kita menunjukkan sikap yang benar kepada teman, sahabat, atau keluarga yang sedang berduka? Baiklah kita menjadi pendengar yang baik dan turut merasakan kesedihan mereka.

DIAM DAN MENDENGARKAN TERKADANG LEBIH BERARTI DARIPADA RIBUAN NASIHAT
Selengkapnya...

Jumat, 12 Februari 2010

Bapa tahu

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
BAPA tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
BAPA sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...
BAPA sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon...
BAPA selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
BAPA punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
BAPA dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
BAPA sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur...
BAPA telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
BAPA telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
BAPA sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
BAPA tahu semuanya
Selengkapnya...

Kamis, 11 Februari 2010

Kekuatan Cinta

Kejadian 29:1-30

Tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.- Kejadian 29:20

Sebuah rumah sakit di Amerika sedang melakukan eksperimen yang cukup menarik. Sekelompok bayi dibelai selama sepuluh menit selama tiga kali sehari. Satu kelompok bayi yang lain tidak pernah mendapatkan belaian. Selang beberapa hari kemudian, ternyata berat badan bayi yang mendapatkan belaian menjadi dua kali berat badan bayi dalam kelompok yang tidak pernah dibelai. Faktanya, tanpa cinta bayi tidak akan tumbuh dengan sehat.

Kekuatan cinta sungguh luar biasa. Seperti itu juga jika kita mempratekkan kekuatan cinta terhadap pekerjaan yang sedang kita geluti. Sebagaimana tanpa cinta bayi tidak akan tumbuh dengan sehat, tanpa cinta pekerjaan kita juga tidak akan pernah berkembang. Hampir-hampir mustahil kita mengharapkan karir kita naik sementara kita tidak pernah mencintai pekerjaan kita. Sangat tidak mungkin bisnis kita bisa berkembang jika kita sendiri sudah merasa bosan terhadap bisnis kita tersebut.

Saya tahu rasanya jatuh cinta, karena saya mengalaminya saat pacaran dulu. Saya jadi sedemikain kreatif dalam mengekspresikan cinta. Saya begitu bersemangat dan sedemikian antusias pada saat kencan. Ketika mengalami masalah, saya tidak gampang menyerah. Itulah kekuatan cinta yang saya rasakan.

Saya bisa bayangkan betapa efektifnya pekerjaan yang sedang kita geluti, kalau kita mengerjakannya dengan penuh cinta. Kita akan bekerja dengan penuh semangat, penuh gairah, penuh kreatif, dan tidak gampang menyerah pada saat mengalami masalah. Kalau masih tidak percaya, cobalah amati mereka yang bekerja dengan penuh cinta, lalu bandingkan mereka yang bekerja tanpa rasa cinta sama sekali. Hasilnya akan jelas berbeda. Bagaimana dengan Anda? Apakah hari ini kita justru terjebak dengan rutinitas pekerjaan yang membosankan? Munculkan kembali rasa cinta kita terhadap pekerjaan kita sehingga kita kembali bergairah dalam melakukan pekerjaan kita hari ini.

Setiap pekerjaan akan menjadi efektif dan maksimal jika dikerjakan dengan penuh cinta.
Selengkapnya...

Rabu, 10 Februari 2010

Perkataan ibu Teresa

Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya :

"Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat - kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi."

Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.

Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk.

Saya memberitahu para suster : "Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk."

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : " Terima kasih " lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan saya bertanya : " Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?" dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri.

Mungkin saya berkata : " Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya". Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan senyum di wajahnya.

Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata : "Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan."

Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : "Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan" - lalu ia mati.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.
Selengkapnya...

Selasa, 09 Februari 2010

Apakah kamu mencintaiKu.?

Suatu hari aku bangun pagi-pagi sekali untuk menyaksikan matahari terbit. Sungguh keindahan Tuhan tak dapat dilukiskan dengan kata - kata. Sambil menyaksikan keindahan ciptaannya, saya memuji Tuhan atas karyaNya yang begitu indah. Saat itulah, Tuhan datang kepada saya

Dia bertanya : “Apakah kamu mencintaiKU ?”. Aku menjawab “Tentu saja Tuhan! Engkau adalah Tuhanku dan Juru Selamatku !

Lalu Dia bertanya ”Jika kamu cacat fisik , apakah kamu masih tetap mencintaiKu?” Aku terpana. Lalu aku melihat tanganku, kakiku, anggota-anggota tubuhku lainnya dan berpikir mengenai banyak hal yang tak mungkin kulakukan bila aku cacat fisik. Hal-hal yang kuanggap sesuatu yang sudah sewajarnya dapat aku lakukan. Lalu aku menjawab “Itu akan menjadi hal yang sulit Tuhan, tetapi aku akan tetap mencintaiMU

Lalu Tuhan bertanya lagi “Jika kamu buta, apakah kamu akan tetap mencintai ciptaan-ciptaanKU?” Bagaimana mungkin aku mencintai sesuatu tanpa mampu melihatnya? lalu aku berpikir mengenai semua orang buta di dunia ini. Dan betapa banyak dari mereka yang masih mencintai Tuhan dan ciptaan-ciptaanNya. Lalu aku menjawab ”Aku sulit membayangkannya Tuhan, tapi aku akan tetap mencintaiMu”

Tuhan bertanya lagi ,”Jika kamu tuli apakah kamu akan tetap mendengarkan perkataan-perkataanKu?” Bagaimana mungkin aku mendengarkan sesuatu jika aku tuli? Kemudian aku mengerti Mendengarkan perkataan - perkataan Tuhan tidak hanya dengan menggunakan telinga kita , tetapi menggunakan hati kita. Aku menjawab ” Itu akan menjadi hal yang sulit Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan perkataan - perkataanMu.”

Tuhan bertanya kembali “Jika kamu bisu , apakah kamu tetap memuji namaKu ?” Bagaimana mungkin aku memuji tanpa suara? Lalu aku menyadari bahwa Tuhan mau kita memuji dari hati dan jiwa kita. Betapapun indahnya suara kita tidak pernah menjadi masalah. Dengan memuji Tuhan tidak hanya dengan nyanyian, Melainkan saat kita mengalami cobaan, kita tetap memuji Tuhan dan berterima kasih atas berkat-berkatNya. Jadi aku menjawab “Meskipun aku tidak dapat menyanyi aku akan tetap memuji namaMU”

Lalu Tuhan bertanya ”Apakah kamu sungguh-sungguh mencintaiKu?” Dengan penuh keberanian dan keyakinan aku menjawab “Ya Tuhan ! Saya mencintaiMu karena Engkau satu-satunya Tuhan yang benar !” “Lalu mengapa engkau berbuat dosa ?” Aku menjawab “Karena aku hanyalah seorang manusia, aku tidak sempurna” “Lalu mengapa pada saat-saat damai, engkau menjauh? Mengapa hanya pada saat menghadapi masalah engkau berdoa dengan sungguh-sungguh ?” Tidak ada jawaban. Hanya ada air mata.

Tuhan lalu melanjutkan “Mengapa hanya bernyanyi pada saat persekutuan dan retret? mengapa mencariKu hanya pada saat penyembahan? Mengapa meminta dengan egois? Mengapa meminta tanpa didasari iman?” Air mata terus membasahi pipiku

“Mengapa kamu malu terhadapKu? Mengapa kamu tidak menyebarkan injil? Mengapa pada saat mengalami pencobaan, kamu berpaling pada sesama ketika aku menawarkan diriKu sebagai tempat berpaling? mengapa membuat alasan-alasan saat Aku memberimu kesempatan untuk melayaniKU?” Aku mencoba menjawab , tetapi tidak ada jawaban yang dapat diberikan

”Kamu telah dianugrahkan hidup. Aku menciptakanmu bukan untuk menyia-nyiakan anugerah ini. Kamu telah dianugrahkan bakat-bakat untuk melayaniKu, tetapi kamu terus berpaling dariKU. Aku telah menyampaikan perkataan - perkataanKU kepadamu, tetapi kamu tidak mendapatkan pengajaran. Aku telah menunjukkan berkat-berkatKu kepadamu, tapi matamu tidak tertuju padaKu. Aku telah mendengar doa-doamu dan Aku telah menjawab semua doamu.” APAKAH KAMU BENAR-BENAR MENCINTAIKU ?” Aku tidak dapat menjwab. Bagaimana mungkin aku dapat? Aku merasa amat malu. Aku tidak mempunyai alasan lagi. Apa yang dapat aku katakan tentang hal ini? Ketika hatiku telah selesai menangis aku berkata ” Mohon ampuni saya Tuhan, Aku tidak layak untuk menjadi anakMU”. Tuhan menjawab “Itulah kasih karuniaKu, anakKU.”

Aku bertanya “Lalu mengapa Engkau terus-menerus mengampuniku? Jawab Tuhan ” Karena engkau adalah ciptaanKu. Kamu adalah anakkKu. Aku tidak pernah mengabaikanmu. Saat engkau menangis, Aku ikut sedih dan menangis bersamamu. Saat engkau berteriak dalam kegembiraan , Aku ikut tertawa bersamamu. Saat engkau putus asa Aku akan menyemangatimu. Saat engkau lelah Aku akan menopangmu. Aku akan bersamamu setiap saat dan Aku akan mencintaimu selamanya.”

Belum pernah aku menangis sekeras ini. Bagaimana mungkin aku telah berlaku sebegitu dingin padaNya? Bagaimana mungkin aku telah menyakiti Tuhan sedemikian rupa? Aku bertanya kepada Tuhan “Seberapa besar kasihMu padaku , Tuhan? Tuhan membentangkan kedua tanganNya. Dan mataku terpaku di kayu salib.aku berlutut di kaki Tuhan, Juru Selamatku . Dan untuk pertama kalinya , aku benar-benar berdoa.
Selengkapnya...

Senin, 08 Februari 2010

Sebuah surat dari Bapa

anak-Ku.....
Saat kau bangun di pagi Hari,

Aku memandangmu

Dan berharap engkau akan berbicara kepada-Ku,

Walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku
Atau
Bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah

Yang terjadi di dalam hidupmu kemarin,

Tetapi..........

Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri

Untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti..... .
Saat engkau sedang bersiap,

Aku tahu akan Ada sedikit waktu bagimu
Untuk Berhenti Dan menyapa-Ku,

Tetapi engkau terlalu sibuk.
Di satu tempat,

Engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit
Tanpa Melakukan apapun.

Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berpikir engkau ingin berbicara kepada-Ku,

Tetapi.......

Engkau berlari Ke telepon Dan menelepon seorang teman

Untuk mendengarkan gosip Terbaru.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja

Dan Aku menanti dengan sabar sepanjang Hari.
Dengan semua kegiatanmu,

Aku berpikir engkau terlalu sibuk

Untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku.

Sebelum makan siang

Aku melihatmu memandang kesekeliling,

Mungkin engkau merasa malu

Untuk berbicara kepada-Ku,

Itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu

Dan melihat beberapa temanmu berbicara kepada-Ku

Dengan lembut sebelum mereka makan,

Tetapi Engkau tidak melakukannya.

Tidak apa-apa..... .
Masih Ada waktu yang tersisa,

Dan Aku berharap engkau akan berbicara Kepada-Ku,

Meskipun saat engkau pulang ke rumah

Kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan,

Engkau menyalakan Televisi,

Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak,
Hanya saja engkau selalu ke sana

Dan menghabiskan banyak waktu setiap Hari di depannya,

Tanpa memikirkan apapun

Hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar

Saat engkau menonton TV

Dan menikmati Makananmu

Tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku.
Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah.

Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,

Kau melompat ke tempat tidur Dan tertidur tak lama kemudian.
Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari

Bahwa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
Aku bahkan ingin mengajarkanmu

Bagaimana bersabar terhadap orang lain.
Aku sangat mengasihimu,

Setiap Hari Aku menantikan sepatah kata, DOA
Atau pikiran atau syukur dari hatimu.
Baiklah... Engkau bangun kembali Dan kembali.

Aku akan menanti dengan penuh kasih

Bahwa Hari ini kau akan memberi-Ku sedikit waktu.


Semoga harimu menyenangkan.

ttd

Bapa sorgawimu
Selengkapnya...

Minggu, 07 Februari 2010

Nasehat motivasi dari Bapa di surga lewat facebook chat^^

Seorang pemuda facebooker mania sedang terlibat chating dengan BAPA DI SORGA lewat facebook chat , si chater mengajukan beberapa masalah dan pertanyaan kepada BAPA tentang hidup dan kehidupannya

BAPA :AnaKKU Kamu mengirim email dan memanggilKu, ada perlu apa (BAPA pura2 tidak tau)?

chater : Iya BAPAku , begini, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk. jadi besok aja ya chatnya , jangan sekarang, nanti saya hubungi lagi...sorry...saya benar2 sedang sibuk.

BAPA : Dasar tak tau diri kamu , Kalau Luna Maya yang ngajak chat pasti kamu ngak bakal nolak, kan ...emang kamu sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

chater :
Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

BAPA :
Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.

chater :
Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

BAPA :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.
Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.

chater :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

BAPA :
Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

chater :
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

BAPA :
Aku telah menngajari sebuah kata-kata mutiara kepada orang barat begini "if you fill your heart with regrets of yesterday and the worries of tomorow ,so, you have no today to be thank full for"
JIka kamu terlalu mikirin yang telah lalu dan mengkawatirkan hari esok, maka kamu tidak bisa melihat dan menikmati peluang hari ini..............

Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.


chater :
Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.

BAPA :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

chater :
Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

BAPA :
Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

chater :
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

BAPA :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

chater :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

BAPA :
Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

chater :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

BAPA :
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

chater :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah.

BAPA :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu ke mana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan.
Hati memberimu arah.

chater :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?

BAPA :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.

chater :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

BAPA :
Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

chater :
Apa yang menarik dari manusia?

BAPA:
Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”

chater :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

BAPA :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

chater :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

BAPA :
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

chater :
Pertanyaan terakhir, Tuhan. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

BAPA :
Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Meskipun kamu merasa seringkali jawabannya adalah TIDAK, karena aku lebih mengetahui yang terbaik buatmu dan aku berlaku adil buat semu mahluk-ku

chater :
Terima kasih Tuhan atas nasehat dan motivasi yang di berikan lewat chatting yang indah ini.
BAPA :
Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

…BAPA has signed out…^^
Selengkapnya...

Sabtu, 06 Februari 2010

Tidak tunggu kaya

2 Korintus 8:14-15

8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
8:15 Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."

Kisah ini dimulai lima tahun lalu, ketika Jorge berjalan melewati satu perusahaan yang memproses makanan. Ia melihat mereka membuang bahan makanan ( dalam keadaan masih baik). Jorge lalu bertanya, jika ia bisa mengumpulkan orang yang membutuhkan makanan, maukah mereka memberikannya? Mereka mau.

Sejak itulah, Jorge dan ibunya memasak bahan2 yang disumbangkan oleh perusahaan tadi setiap malam sehabis pulang kerja. Kotak makanan dan gelas kertas dipakai untuk membungkus makanan2 yang telah disiapkan oleh Jorge dan ibunya.

Menggunakan mobilnya sendiri, Jorge lalu membawa semua makanan ini ke tempat yang sudah ditentukan setiap harinya, di Roosevelt Avenue. Dan disanalah, tidak kurang dari 110 orang mengantri setiap harinya, menantikan makanan yang dibawakan oleh Jorge. Mereka ini adalah orang2 yang hanya bisa makan 1 kali setiap hari dan rela mengantri dibawah cuaca yang sangat dingin untuk bertemu Jorge.

Orang - orang ini tidak punya rumah, dan pekerjaan. Sejak krisis menghantam Amerika, semakin banyak pengangguran. Terutama para imigran asing. Jorge pun dulunya imigran. Ibunya yang bekerja sebagai tukang bersih2, mengirimkan uang setiap bulannya untuk keluarganya di Kolombia. Lalu ketika beranjak remaja, Jorge ikut menyebrang ke Amerika, mendapatkan pekerjaan di salah satu sekolah lalu menjadi warga Amerika. Saat ini, Jorge dan ibunya tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota New York.

Jamie Oliver, Jorge, dan para imigran

Berikut wawancara dengan Jorge :
Apa tantangan yang kau hadapi ?
Hari demi hari yang menjadi tantangan adalah memiliki cukup uang untuk melaksanakan misi ini, dan juga memiliki makanan yang cukup untuk diberikan kepada lebih dari 110 orang yang menungguku setiap malam.


Apa yang memotivasimu untuk bekerja sedemikian keras setiap harinya?
Tuhanlah yang menjadi guideku dan memberiku kekuatan untuk meneruskan misi-Nya. Hal lain yang memotivasiku adalah, aku ingin membagikan apa yang kumiliki kepada mereka yang membutuhkan. Kalau kau berbagi, maka kau akan "OK" dengan Tuhan.


Kapan terakhir kali kau berlibur ?
Liburan terakhirku adalah 5 tahun lalu ketika aku belum memulai misi ini.


Apakah orang yang kau tolong menghargai apa yang kau lakukan?
Yes, dengan senyum lebar mereka selalu berkata, "Terima kasih Kolombia" dan "Tuhan memberkatimu." Mereka juga berkata, "Aku akan bertemu kamu besok, dan jika bukan karena kamu, aku tidak akan punya apapun untuk dimakan."


Apakah ada yang membantumu dan keluargamu ketika kau tiba di Amerika?
Tidak, tapi ibuku disini, dan kami mendukung satu sama lain, kami bertiga.


Apakah kau hanya membantu imigran atau ada juga tuna wisma yang kau bantu ?
Iya, ada juga para tuna wisma yang kubantu.


Kau bergantung pada kebaikan dan donasi dari yang lain, bagaimana orang2 ini tahu tentang kamu?
Mereka menemukanku lewat tv, internet, koran. Kadang2 orang pun sengaja melintasi Roosevelt avenue dan melihat apa yang kulakukan.


Apakah kau tahu orang lain yang melakukan hal sepertimu di kota ini?
Tidak setiap malam.


Kalau ada 3 permintaan yang bisa kau ajukan, apakah itu?
Pertama aku ingin tetap sehat dan terus melakukan misi yang diberikan Tuhan ini.
Kedua, aku ingin mendedikasikan diriku untuk melakukan misi ini sebagai full - time job, dan tidak hanya memberikan kepada mereka makan malam, tapi juga sarapan.
Ketiga, aku berharap punya tempat lebih besar dimana aku bisa masak, menyimpan, dan alat2 lain yang kuperlukan untuk misi ini.


Jorge termasuk salah satu imigran yang diliput dalam acara koki terkenal, Jamie Oliver ( Jamie Oliver's American road trip)

sumber : Jamieoliver's official site
Selengkapnya...

Jumat, 05 Februari 2010

Kamu dan papamu.!!

Saat kamu marah2 tak karuan dan mengumbar rasa benci pada Papamu karena papa tidak mengabulkan keinginanmu

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?



Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?




Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"




Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa :)




Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat2.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.




Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?




Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"




Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.




Dan akhirnya....




Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."




Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....




Papa, Papi, Ayah, Bapak, atau Abah kita...

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..




My daddy is my super hero..
Luvcha, dad..

.ε(- ^__^ -)з

OLEH:PST WENAS
Selengkapnya...