Jumat, 19 Februari 2010

Kasih Kristus melenyapkan ketakutan

Dikisahkan, suatu hari, Bunda Teresa berkeliling dari gang ke gang di kampung-kampung Calcutta.

”Bunda Teresa!” , teriak seorang pengemis
yang sambil menggesotkan kakinya mendekat pada Bunda Teresa.

”Ini untukmu. Aku ingin memberikannya padamu,”
kata pengemis itu sambil memberikan semangkuk uang receh rupee hasil jerih payahnya mengemis hari itu.

Mother Teresa menolak halus dan berkata,”Mengapa, Bu? Bukankah ini untuk makan ibu hari ini?”

Pengemis itu memandang Bunda Teresa dengan mata berkaca-kaca.
Dia memang belum makan dari pagi.
Teresa memperhatikan baju yang lusuh dan kulit berbalut tulang yang berlutut di depannya.
Bunda Teresa mendekat.

”Tapi, Bunda”, bujuk pengemis itu, ” ada yang jauh lebih menderita dri pada aku.
Terimalah, Bunda. Berikan uang ini kepadanya.”, kata si pengemis itu penuh harap.

Bunda Teresa tidak berani menolak. ”Baik,baik. Aku terima. Terimakasih”,
ucap Bunda Teresa, menepuk bahu pengemis itu,tanda menghargai jerih payahnya.

Satu pesan dia tangkap dari hadiah sang pengemis itu.
Betapa ia memberikan hartanya dengan segala cinta demi membahagiakan orang lain.
Inilah mencintai sampai terluka.
To love till it's hurt.
Pengemis itu tidak mengindahkan keringat, keletihan dan luka goresan di jalanan berdebu dan panas,
yang dialaminya hari itu.
Ia memberikan dengan cintanya.

Hal sama yang kita temui dalam kisah janda miskin pada Markus 12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya,
tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Di dalam dunia yang keras, penuh keegoisan, hanya mementingkan diri sendiri dan penuh dengan ketiadaan kasih karunia,
PESAN KASIH di atas harus bergema dan diteruskan oleh kita, tak perduli berapa besar luka yang kita diterima, sesak rasa nyeri di dada dan tetes air mata yang telah kering.
Semuanya tak sebanding dengan KASIH KARUNIA yang telah dilimpahkan Bapa di surga.

Di saat Yesus berkata dalam Mat. 22:39 Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,
Ia bukan hanya memerintahkan, tetapi juga menjadi contoh yang hidup.
Ia Tuhan yang begitu besar kasihnya kepada manusia sehingga rela mencintai sampai TERLUKA.

Saat ditanya berapa besar kasihNYA kepada kita, Ia hanya terdiam, lalu membuka tanganNYA dan mati di kayu salib.
Yesus memberikan nyawa dan kehormatan diri-Nya, untuk mati di kayu salib; sebuah simbol penghinaan terbesar di zaman itu.
Namun KASIH NYA TETAP, menghasilkan sebuah daya hidup dan menyembuhkan, yang terus
berpengaruh sepanjang zaman sampai kekal selamanya, tiada berkesudahan.
Amin.


Selamat mencinta, selamat terluka.



MET BERAKTIFITAS^^GBU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar