Selasa, 23 Februari 2010

Kado terindah di hari Natal

“Kamu tuh terlalu sibuk sama kerjaan kamu, kamu ga pernah peduli sama anak-anak, meeting lah, keluar kota lah, ada aja alasan yang kamu buat,”
“Tapi aku emang beneran sibuk sama kerjaan aku mah….mamah ini ga pernah ngerti sama kerjaan papah, aku nyesel punya istri kaya kamu,”
“Apa? Jadi sekarang kamu mau nya apa?”
“Oke, mulai sekarang kita bubar, biar sheila ikut papah dan Bela ikut dengan mamah,”
Itulah percakapan antara kedua orang tua Bela yang membuat Bela berpisah dengan ayah dan kakak nya, ia sangat merindukan mereka. Kini ia sedang merenung, duduk seorang diri di balkon rumah nya. Ia tidak lagi punya kawan buat bercanda dan bersuka cita setelah dua tahun yang lalu kedua orang tua nya bercerai, padahal dua hari lagi akan tiba hari natal ia ingin sekali bertemu dengan kakak nya.
“Bela…kamu belum tidur?” teriak mamah nya bela dari lantai bawah.
“Belum mah, aku belum ngantuk,”
“Tidur dong sayang, besok kan kita mau belanja barang-barang buat natal,”
“Iya mah sebentar lagi,” sungguh malam yang sangat berat bagi Bela, ia sangat merindukan malam natal bersama keluarga nya seperti dahulu kala saat mereka masih bersama.
“Papah….kakak…..Bela kangen kalian, ya Tuhan aku tahu kau maha mendengar dan kau pasti mau mengabulkan do’a ku ini, aku mohon kepada-Mu satukanlah kami seperti dahulu,”
Di tempat yang berbeda yaitu di Apartemen tempat di mana papah dan kakak Bela tinggal sedang diadakan makan malam bersama rekan-rekan kerja papah nya, Sheila juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Bela, ia hanya mengurung diri di kamar nya gak peduli dengan keramaian yang terjadi di luar kamar nya.
Ia mencoba menelepon adik nya, namun sayang tidak ada nomor Bela yang bisa dihubungi di ponselnya, mereka memang sudah lose contact sejak lama, ia beranjak ke luar kamar dan menatap keramaian kota Jakarta dan indah nya langit dimalam hari dari apartement nya.
“Mamah….adik….kalian seperti bintang di langit, aku tahu kalian begitu jauh dan tak terjamah oleh ku, namun keberadaan kalian bisa aku rasakan dan pancaran sinar kalian mampu menerangi malam-malam ku yang sunyi dan sepi……..bintang, sampai kan rasa rindu ku ini pada mereka. angin malam, sejuk kan lah hati mereka dan jagalah tidur mereka dari mimpi buruk yang dapat mengganggu tidur mereka,” hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan rasa rindu nya.
Hari natal tinggal sehari lagi, seperti biasanya anak-anak menulis permintaan mereka di selembar kertas kecil lalu di masukkan ke kantung permintaan yang berbentuk kaus kaki Santa. Sebelum menulis mereka membaca do’a kepada Allah agar permintaan mereka dikabulkan, begitu juga dengan Bela dan Sheila. selesai menuliskan permintaan nya Bela melipat kertas tersebut dan ia masukkan ke dalam kaus kaki Santa dengan penuh harapan, Sheila juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bela.
Saat tengah malam Mamah Bela mengambil kertas yang sudah dituliskan sebuah permintaan dari Bela, setelah membuka lipatan kertas tersebut, ia sangat terkejut dan sedikit meneteskan air mata.
“Aku gak menginginkan apapun di hari natal ini, aku ga butuh barang-barang mewah atau pun yang lainnya, aku Cuma menginginkan satu. Yaitu keluarga kita bisa berkumpul bersama lagi seperti dahulu kala, bukan hanya dihari yang kudus ini tetapi untuk selamanya” begitulah isi permintaan yang dituliskan Bela.
Tidak lama kemudian mamah langsung menelepon mantan suami nya, kebetulan ia masih menyimpan nomor HP mantan suami nya itu.
“Haloo…selamat malam, dengan siapa ya?”
“Dimas ini aku Angel, mantan istri mu,”
“Ada perlu apa kamu menelpon ku tengah malam begini?”
“Maaf kalau aku mengganggu, tapi aku Cuma ingin menyampai kan permintaan Bela di hari natal,”
“Kenapa kamu harus menelepon aku, memang kamu sudah tidak mampu untuk membelikan sesuatu untuk nya,”
“Dimas, dia bukan meminta barang atau benda yang lain nya, ia hanya ingin kita bisa kembali seperti dulu lagi,”
“Apa? Maaf aku gak bisa,”
“Tapi, Dimas….” Ternyanta telepon nya sudah di putus oleh nya, Mamah pun hanya bisa menangis karena bingung harus berbuat apa.
Saat hari natal tiba, Bela dan Mamah nya pergi ke gereja dengan wajah yang muram, sungguh hari natal yang sangat menyedihkan bagi mereka, selesai merayakan natal di gereja mereka lekas kembali ke rumah tidak ada perubahan di raut wajah mereka, hiasan-hiasan natal, kue-kue yang sudah tertata rapi di atas meja dan pohon natal yang sudah berdiri kokoh dengan hiasan-hiasan nya tidak mampu mengembalikan senyum mereka.
“Suatu saat kita pasti bisa bersama lagi, kamu harus yakini itu sayang,” hanya itu yang bisa mamah katakan kepada Bela, mereka pun saling berpelukan dengan air mata yang membashi pipi.
Satu jam kemudian, ada tamu yang datang ke rumah mereka, dan mereka sangat terkejut dengan kehadiran tamu tersebut, ternyata yang datang adalah papah dan kakak nya Bela.

“Papah….kakak….aku kangen…..” kedua bersaudara itu lsngsung berpelukan erat.
“Ternyata Sheila juga menuliska permintaan yang sama seperti Bela, mungkin cuma ini yang bisa membuat mereka tersenyum kembali,” Papah juga segera memeluk mamah, tidak bisa dipungkiri kedua nya memang masih saling cinta.
“Mamah…papah,kita akan menjadi satu keluarga lagi kan?” Bela dan Sheila segera memaksa kedua orang tua nya untuk segera menjawab pertanyaan mereka.
“Sayang…papah gak bisa. Papah gak bisa lagi pisah dari mamah dan Bela,” jelas papah.
“Maksud nya pah?” Sheila bingung
“Jadi mulai sekarang kita akan menjadi satu keluarga lagi,” mamah menegas kan kepada anak-anak nya, mereka pun tetawa bahagia tak terlihat lagi kesedihan di wajah mereka.
“Kan sekarang kita sudah berkumpul lagi, papah pingin kalian minta satu permintaan lagi,”
“Hmm….apa ya?” dengan kompak nya mereka menjawab, “Punya adik baru…..” mereka kini bisa tertawa bersama seperti sebelum perceraian itu. Sungguh sebuah keajaiban dihari yang penuh kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar