Kisah ini diambil dari sebuah cerita kuno di masa lampau. Terjadi di sebuah pedesaan yang sepi penduduk. Walaupun ada rumah-rumah di daerah itu, namun seperti halnya pedesaan, tidaklah ada yang bisa dibanggakan disana kecuali udara yang segar dan suasana tenang dan sepi.
A Lai adalah seorang lelaki tua yang telah bertahun-tahun ditinggal istrinya yang sudah meninggal. Bersamanya hiduplah seorang anaknya yang dengan susah payahnya berhasil dibesarkan dari uang hasil bekerja di sebuah restoran di pinggir kota. Anak gadisnya bernama Yi Ling. Cantik, baik dan sopan. Tapi A Lai sudah terlalu tua untuk pergi ke kota dan bekerja di restoran. Kini dia sudah pensiun dan tinggal di rumah dengan anak gadisnya yang telah berangkat dewasa.
Sebagai anak yang berbakti dan tahu membalas budi orang tuanya, setelah lulus sekolah, Yi Ling memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya lagi. Tetapi dia memilih untuk bekerja di restoran tempat ayahnya pernah bekerja. Namun baru bekerja beberapa bulan, dia pun memilih berhenti dan menjaga ayahnya yang sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan itu.
Untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya, Yi Ling membuka sebuah warung kecil-kecilan dari uang hasil kerjanya di restoran dan sebagian tabungannya. Dengan begitu, Yi Ling pun bisa menjaga ayahnya.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak terasa sudah hampir 1 tahun mereka hidup serba berkekurangan seperti itu. Penyakit ayahnya makin hari makin parah. Walau begitu, Yi Ling tak pernah lupa berdoa kepada Tuhan setiap harinya agar Tuhan bisa membukakan jalan kepada mereka.
Suatu hari, datang seorang lelaki tua gelandangan ke dusun itu. Pakaiannya kumal, robek disana sini, compang camping dan lusuh. Wajahnya hitam dan penuh dengan kotoran dan debu, serta jenggot dan jambang yang tak terurus. Tak bisa lagi ditaksir berapa sebenarnya usia lelaki itu dikarenakan penampilannya yang lusuh tersebut.
Dari satu rumah ke rumah lain, gelandangan itu meminta-minta. Pada waktu itu hari sudah mulai masuk malam. Tak ada satupun rumah yang mau membukakan pintu untuknya masuk. Wajarlah bila melihat keadaannya yang berantakan dan tak terurus itu.
Tapi berbeda dengan Yi Ling. Tak tega melihat lelaki tua itu berjalan tak tentu arah, diapun lantas meminta ijin kepada ayahnya untuk membiarkan lelaki itu mampir ke warungnya untuk beristirahat walau hanya sesaat. Ayahnya memperbolehkannya. Dan Yi Ling pun mempersilakan lelaki tua itu duduk di luar, sementara dia masuk mengambil minum untuknya.
Tapi lelaki tua itu tidak lantas duduk di luar. Dia dengan seenaknya melangkah masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi balai di ruang tamu tersebut. Terkejut A Lai melihat tindakan kurang ajar lelaki tua itu. Namun dia mencoba menghibur diri karena berpikir jikalau dirinya seperti lelaki tua itu, mungkin dia pun akan melakukan perbuatan yang sama.
Pembicaraan terjadi beberapa saat ketika Yi Ling keluar membawakan minum dan sedikit makanan.
"Bapak hanya berdua di rumah ini?" tanya lelaki tua itu. A Lai mengangguk.
"Dan gadis cantik itu putrimu?" sambung lelaki tua itu lagi.
A Lai mulai dilanda pikiran tak menentu. Masuk rumah orang seenaknya masih didiamkan, malah mencoba mencari tahu keadaan keluarga. Namun dia masih bersabar dan menjawab, "Ya, dia putriku, anakku satu-satunya."
"Hmm... cantik ya..." kata si gelandangan itu lagi. Hal mana semakin membuat A Lai kesal. Namun dia masih bisa bersabar.
"Silakan dinikmati, Pak. Ini seadanya yang kami punya." kata Yi Ling pada saat menghidangkan minum padanya. Tanpa banyak bicara lagi, gelandangan tua itupun makan dengan lahapnya.
Sepiring kue-kue ringan dan segelas air ludes sudah dilahapnya. Sambil mengelap mulut dengan punggung tangannya, dia menatap A Lai dan putrinya. "Makanan yang lezat. Wah, tapi aku masih lapar nih. Masih ingin makan lagi. Kalian ada nasi?"
Pertanyaan itu membuat A Lai dan Yi Ling terhenyak dan mereka saling pandang satu sama lain. Beberapa detik kemudian, A Lai menjawab. "Ada. Tapi mungkin tidak begitu banyak."
"Keluarkan saja. Aku lapar nih. Sudah 3 hari tidak makan." jawab lelaki tua itu seenaknya.
Walau berat hati, tapi A Lai meminta Yi Ling menyajikan nasi yang hanya sisa 2 piring untuk jatah makan mereka berdua malam itu.
"Sayurnya mana??" tanya si gelandang tua itu lagi.
Lagi-lagi dengan berat hari, A Lai meminta Yi Ling menyajikan kepada gelandangan tua itu.
Setelah selesai makan, gelandangan itu pun berdiri dan merenggangkan otot. "Aku kenyang. Belum pernah aku makan seenak ini." katanya sambil mengusap-usap perutnya. Lalu dia berhenti dan menatap A Lai. "Boleh aku menumpang mandi?"
Pertanyaan itu membuat A Lai terbelalak. Namun dia mencoba bersabar, dengan harapan, setelah selesai mandi, gelandangan tua itu akan pergi dan mereka bisa beristirahat.
"Tapi aku mau putrimu ini yang tunjukkan dimana kamar mandinya ya..." katanya lagi. "Sekalian siapkan aku handuk dan air hangat ya... Kata orang, segar rasanya mandi air hangat setelah makan kenyang begini."
Dengan menahan kesabaran yang sudah mulai menipis, A Lai meminta Yi Ling mengantar dan menunjukkan letak kamar mandi. Sementara si gelandangan tua itu mandi, A Lai dan putrinya menunggunya di ruang tamu sambil menahan amarah.
Cukup lama juga gelandangan tua itu mandi dan ketika dia selesai dan keluar dari kamar mandi, waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam. A Lai dan putrinya menghela nafas lega dan berharap itulah waktunya mereka bisa beristirahat begitu si gelandangan tak tahu diri itu pergi.
"Wah.... asyik juga rasanya. Segar sudah badanku. Sekarang waktunya berisitirahat. Pasti cepat pulas ya kalau tidur dalam keadaan segar begini." kata gelandangan tua itu. A Lai dan Yi Ling mengernyikan dahi bingung.
"Dimana kamar putrimu?" tiba-tiba gelandangan itu bertanya sambil memandangi mereka berdua.
"Kenapa ya??" tanya A Lai yang sudah mulai kesal.
"Aku mau tidur disana. Kamar perempuan biasanya harum dan lembut." jawab si gelandangan.
A Lai sesaat ingin sekali mengusir gelandangan tua itu. Tapi lagi-lagi dia bersabar karena dia melihat gelandangan tua itu hampir tak beda dengan dirinya. Beruntung dia masih ada putri dan dirawat olehnya, sedangkan lelaki tua di hadapannya, sudah tak ada rumah, tak ada pula yang merawatnya. Terbayang olehnya kalau lelaki tua itu adalah dirinya.
Akhirnya A Lai merelakan kamar Yi Ling untuk dijadikan tempat tidur si gelandangan tua itu. Dan si gelandangan itupun masuk sambil tersenyum
terkekeh.
"Oh ya, masih ada yang kurang." katanya dengan membalikkan badannya. Membuat A Lai dan Yi Ling terperangah.
"Ada apa lagi, Pak?" tanya Yi Ling.
"Ini kamarmu kan?" tanya pak tua gelandangan itu. Yi Ling mengangguk.
"Dimana kamu akan tidur kalau aku tidur di kamarmu?" tanya pak tua itu lagi.
"Aku bisa tidur di ruang tamu." jawab Yi Ling.
"Hah!! Anak gadis tidur di ruang tamu? Itu tidak baik!!" kata si pak tua itu.
"Ya, dia akan tidur di kamar saya, biar saya yang tidur di ruang tamu saja, Pak." jawab A Lai.
"Hah!! Orang tua seusiamu tidur sendiri di ruang tamu? Itu tidak baik!!" kata pak tua itu lagi.
A Lai dan Yi Ling semakin kebingungan. Sementara gelandangan tua itu terkekeh.
"Aku mau putrimu malam ini tidur denganku!!" kata gelandangan tua itu.
"Hah!!" ganti A Lai dan Yi Ling yang terbelalak dan terkejut. "Tidak mungkin!"
"Mana bisa begitu??" jawab A Lai.
"Ya, kalau begitu aku akan terus tinggal selamanya disini." jawab gelandangan tua itu sekenanya. Kecuali kalau aku diperbolehkan tidur sekamar dengan putrimu ini, dan aku akan pergi besok pagi."
"Hah!!" lagi-lagi A Lai dan Yi Ling terkejut mendengarnya.
"Ya sudah. Aku tak pernah mengubah keputusanku lho..." kata gelandangan tua itu.
"Ayah, tak apalah, aku sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri. Percayalah ayah." jawab Yi Ling. Sepertinya dia juga sudah putus asa melayani gelandangan yang tak diri dan keras kepala itu.
Akhirnya A Lai, dengan was-was harus merelakan putrinya tidur sekamar dengan gelandangan tua itu malam itu.
"Pokoknya kalau ada suara jeritan, aku akan masuk dan bertindak." kata A Lai dalam hati.
Waktu berlalu. Tak terasa malam pun lewat tanpa ada kejadian apa-apa. Tidak ada suara jeritan Yi Ling. Yang terdengar hanya suara dengkuran si gelandang tua itu saja.
Keesokan paginya, tahu-tahu Yi Ling menjerit dan berlari keluar dari kamar. Ayahnya terkejut dan keluar dari kamarnya dengan sebuah golok di tangan. Dilihatnya Yi Ling berlari keluar dengan wajah kebingungan.
"Yi Ling, apa yang terjadi? Apa yang dia lakukan padamu?" tanya A Lai yang tergopoh-gopoh beranjak ke kamar.
"Ayah, lelaki tua itu tak ada disini. Dia menghilang!!" kata Yi Ling.
"Menghilang?" tanya A Lai tak percaya.
"Iya, Ayah. Dia menghilang. Aku tertidur dengan pulas dan aku tahu dia tidak macam-macam kepadaku. Dan pada waktu aku bangun dan membuka mataku, ayah, pasti tak akan percaya..." kata Yi Ling bersemangat.
"Ada apa?" tanya A Lai.
"Aku menemukan ini di tempat tidurku, Ayah, persis dimana dia tidur semalam." kata Yi Ling sambil menunjukkan sebatang logam berwarna kuning menyilaukan di tangannya.
"Astaga! Ini kan emas!!" kata A Lai. "Tak kusangka lelaki itu orang kaya. Mungkin dia mau membayar apa yang kita berikan padanya dengan emas ini. Tapi...."
"Ayah... apa benar dia kaya? Kalau dia kaya, dia takkan lagi mengemis dan minta-minta seperti itu kan?"
"Iya ya....benar juga... jadi dia siapa?" A Lai menggaruk-garuk kepalanya yang penuh dengan uban itu.
"Ayah, yang ada di tempat tidurku bukan hanya emas ini saja. Masih ada lagi beberapa batang lainnya dan juga selembar surat ini." kata Yi Ling.
"Selembar surat?" kata A Lai dan karena dia buta huruf, lantas dia meminta putrinya untuk membacakan untuknya.
"A Lai. Terima kasih atas kebaikan yang telah kalian berikan pada saya semalam. Saya tahu kalian keluarga tak berada dan Yi Ling tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan diri Anda. Yi Ling, anak yang berbakti. Tuhan mengabulkan doanya dan mengutus saya datang kesini membantu kalian. Sengaja saya memberikan ujian kepada kalian berdua karena saya ingin tahu apa kalian pantas mendapatkan bantuan dari buah kesabaran kalian. Dan ternyata kalian lulus. Selamat ya. Pergunakanlah pemberian saya itu sebaik-baiknya dan ingatlah selalu berjalan di jalan Tuhan."
Air mata A Lai menetes mendengar itu semua. Yi Ling pun tak kuasa menahan titik air matanya jatuh dan membasahi kertas surat itu. Segera saja kedua insan itu berjalan keluar rumah, dan bersujud di bawah langit sambil menangis terharu. Ketika mereka berpelukan, air mata mereka masih berderai.
"Tuhan bukan tidak mendengar doa kita. Percayalah DIA pasti menjawab semua doa kita. Hanya kita tidak pernah menyadari kapan atau bagaimana DIA akan menjawab doa kita tersebut. Selama dalam hati kita ada iman kepada-NYA, selama itu pula, kita akan selalu diberkati dan dibantunya."
Mudah-mudahan kisah kuno ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
NOTES SDR.Kazfelinus li
Senin, 28 Juni 2010
Ketika kesabaran diuji
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar