Minggu, 06 Juni 2010

An amazing morning prayer

Pagi ini aku bangun jam 05.07 , persiapan doa pagi, dan jam 05.25 sudah pegang gitar . Konsentrasi, aku berbisik kepada sahabatku, Roh Kudus, untuk menolongku memasuki hadirat Allah dan memohon inspirasi-Nya agar aku bisa memanjatkan doa-doa yang pagi ini harus aku naikkan kepada Yang Mahatinggi. Sebuah arus emosi kudus melandaku pelahan, dan aku menangkapnya sebagai respons Roh Penolong.

DIA memberiku lagu ini (aku tidak begitu hafal syairnya, jadi, apa yang terlintas, itu yang aku nyanyikan):

KU TAK DAPAT LUPAKAN, KEBAIKAN YANG KU TRIMA

PENGORBANANMU YANG MULIA, MEMBUAT KU BERHARGA



KAU TELAH MENERIMA, AKU APA ADANYA

KARENA KASIHMU NYATA, MEMULIHKAN HIDUPKU



(REF)

SBAB ENGKAU TUHAN, TAK MELIHAT RUPA

SBAB ENGKAU TUHAN, TAK MEMANDANG HARTA

HATI HAMBA YANG SLALU KAU CARI

BIAR KAU TEMUKAN DI DALAMKU



SLAMA KU HIDUP, KU MAU MENYEMBAHMU

SBAB ENGKAU SANGAT BERARTI BAGIKU

YANG TERBAIK YANG ADA PADAKU

KUPERSEMBAHKAN KEPADAMU, YESUSKU



Mengikuti aliran Roh Kudus, aku mengulang-ulang lagu ini, dan menikmati setiap baitnya. Inderaku menangkap eskalasi emosi, mulai intens, intens dan intens, dan Roh Kudus dengan cantik membimbing jari jemariku menggenjreng dawai gitar, dan begitu cepatnya aku memasuki hadirat-Nya yang pekat.

Aku taruh gitar sebentar, meraih tissue yang berjarak 4 meter dari tempatu duduk. Air mataku sudah tak terbendung. Aku duduk ke tempatku semula, dan aku masih dicekam hadirat TUHAN. Satu, dua lembar tissue kupakai mengelap airmataku, dan sambil memejamkan mata, aku menatap ke atas, kepada Bapaku. Air mataku kian deras. Aku mencoba mengucapkan sesuatu, namun Roh Kudus mendorongku berbahasa Roh, dan aku ikuti.

Begitu banyak kosa kata yang Roh Kudus berikan untuk aku ucapkan dalam bahasa aneh ini, namun aku mengikutinya dengan patuh. Wusss, aku merasakan luapan emosi yang kian pekat, sehingga aku berbahasa Roh sambil tersedu-sedu. Bibirku mulai bergetar, dan begitupun lidahku, aku berbahasa lidah. Tempohnya makin cepat, dan cepat.

Sudah lebih dari satu tahun terakhir Roh Kudus memampukanku untuk tetap tinggal dalam hadirat-Nya, sekalipun aku membuka mata. Dahulu, di awal pertobatanku, penyembahan harus kulakukan dengan mata terpejam, dan bila membuka mata, bisa langsung “drop” . Namun, puji Tuhan, sekarang, baik dengan mata tertutup ataupun terbuka, aku tetap tinggal dalam hadirat yang mulia ini.

Aku membuka mataku, sambil membiarkan mulutku berbahasa Roh, dan sudah jam 6.15 , sudah 40 menit lebih, namun aku masih punya waktu sedikit, sebab jam 8.00 harus sudah di kampus

Aku lanjutkan melakukan doa syafaat dengan berbahasa Roh, sampai intensitas hadirat Allah mulai berkurang, tahulah aku bahwa beban doa yang harus kunaikkan pagi ini sudah selesai.

Aku naikkan syukurku kepada Bapaku yang terbaik, terkasih, dan aku tutup doa pagi ini. AKu membuang 5 lembar tissue basah, aku puas, namun mataku sebam. Ah, sungguh, berdoa dengan bahasa Roh lebih luas cakupannya, sebab bukan akal budiku yang berdoa, namun rohku dan Roh Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar