Alkisah, di zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil tinggallah seorang guru bijak yang juga terkenal suci. Guru tersebut punya empat murid dan paling sayang pada satu murid. Ketiga murid lainnya bisa merasakan hal ini dan suatu hari bertanya kepada guru mereka, mengapa menganakemaskan satu murid saja.
Guru yang bijak itu tidak menjawab. Sesudah berpikir sejenak, ia memanggil keempat muridnya dan memberi mereka masing-masing seekor ayam.
“Bawa ayam ini ke satu tempat yang tak terlihat siapa pun. Bunuh ayam ini dan sembunyikan. Lalu kembali ke sekolah.” perintahnya.
Keempat murid itu pun pergi membawa ayam tersebut dan masing-masing menuju tempat yang berbeda.
Tak lama kemudian, ketiga murid itu kembali ke sekolah. Mereka menunggu kepulangan murid kesayangan tersebut. Tapi sampai matahari terbenam, murid kesayangan itu belum kembali juga. Ketiga murid itu mulai menertawakan dan mengejek anak emas gurunya. Mengatakannya benar-benar bodoh. Tugas yang begitu mudah pun tak bisa diselesaikan.
Menjelang tengah malam, murid tersebut kembali ke sekolah sambil tetap membawa ayamnya. Ketiga murid tersebut makin menertawai temannya.
“Bagaimana mungkin orang seperti ini menjadi anak emas dan dianggap sebagai murid yang paling taat?” kata mereka.
Sang guru lalu bertanya kepada murid kesayangannya, “Mengapa ayam ini dibawa pulang?”
“Maafkan saya, Pak. Saya tak bisa menemukan tempat seperti yang disuruh. Ke mana pun saya pergi, Tuhan selalu ada di sana dan mengamati saya.”
Guru tersebut tersenyum, lalu berjalan ke kamarnya untuk istirahat.
Moral cerita:
* Penilaian kita terhadap seseorang sering salah. Karena itu, jangan menilai orang lain dan kita akan lebih bahagia dengan kondisi kita.
* Pertimbangan berdasarkan kebenaran dan suara hati selalu bisa diterima.
Guru yang bijak itu tidak menjawab. Sesudah berpikir sejenak, ia memanggil keempat muridnya dan memberi mereka masing-masing seekor ayam.
“Bawa ayam ini ke satu tempat yang tak terlihat siapa pun. Bunuh ayam ini dan sembunyikan. Lalu kembali ke sekolah.” perintahnya.
Keempat murid itu pun pergi membawa ayam tersebut dan masing-masing menuju tempat yang berbeda.
Tak lama kemudian, ketiga murid itu kembali ke sekolah. Mereka menunggu kepulangan murid kesayangan tersebut. Tapi sampai matahari terbenam, murid kesayangan itu belum kembali juga. Ketiga murid itu mulai menertawakan dan mengejek anak emas gurunya. Mengatakannya benar-benar bodoh. Tugas yang begitu mudah pun tak bisa diselesaikan.
Menjelang tengah malam, murid tersebut kembali ke sekolah sambil tetap membawa ayamnya. Ketiga murid tersebut makin menertawai temannya.
“Bagaimana mungkin orang seperti ini menjadi anak emas dan dianggap sebagai murid yang paling taat?” kata mereka.
Sang guru lalu bertanya kepada murid kesayangannya, “Mengapa ayam ini dibawa pulang?”
“Maafkan saya, Pak. Saya tak bisa menemukan tempat seperti yang disuruh. Ke mana pun saya pergi, Tuhan selalu ada di sana dan mengamati saya.”
Guru tersebut tersenyum, lalu berjalan ke kamarnya untuk istirahat.
Moral cerita:
* Penilaian kita terhadap seseorang sering salah. Karena itu, jangan menilai orang lain dan kita akan lebih bahagia dengan kondisi kita.
* Pertimbangan berdasarkan kebenaran dan suara hati selalu bisa diterima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar