Rabu, 04 Agustus 2010

Inilah yang Dia lakukan

Suatu hari saya sedang merenungkan kitab Yehezkiel 34 yang menceritakan tentang bagaimana sikap hati Tuhan saat menghadapi para gembala yang tidak benar. waktu saya merenungkan ayat-ayat itu, timbul banyak kata-kata di hati saya yang mengagumi bagaimana cara Tuhan mencintai saya dan kita semuanya..Dia memperlakukan kita sebagai domba-domba kesayangan-Nya yang sangatlah berharga.. Seusai saya membacanya, saya menuliskannya di komputer saya dan hati saya dipenuhi dengan kasih-Nya..Oh betapa Dia mengasihi saya dan mau membebat luka-luka hati saya..

Inilah yang akan Dia lakukan untuk kita: sebagai Gembala yang baik, penuh kasih dan adil, Dia akan menggembalakan engkau. Dia membiarkan engkau berbaring saat engkau lelah dalam menjalani kehidupan yang melelahkan ini. Dia membiarkan engkau berbaring di pangkuanNya dengan tenang..tanpa harus melakukan apapun..terima saja cintaNya….Berbaring dengan tenang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan..engkau tak perlu takut akan serigala serigala buas dan trauma trauma masa kecilmu…sebab engkau ada dalam pangkuanNya..dengan sabar Dia menunggumu puas dalam pelukanNya..kadang saat saat seperti itupun Dia tidak berkata apa-apa…dan kadang hal itu membuat kita bingung apakah kita betul betul berbaring? Tapi tidak dapat dipungkiri, hanyalah bisikan lembut dan tatapan cinta yang ada…begitu indah…
Setelah kau puas, kembali Dia akan membiarkan kau berjalan kembali dalam kehidupn yang adalah pertarungan seumur hidup..suka duka kau alami..

Dia akan mencari engkau jika engkau tersesat…engkau merasa jalan yang kau tempuh adalah benar dan tiba tiba saja engkau mendapati dirimu ada di ujung jurang yang sangat dalam, hampir terjatuh, tetapi dengan kesetiaanNya Dia mau mencari engkau sampai engkau diketemukan dalam pangkuanNya…ketika Dia sudah menemukan engkau, Dia akan segera menggendongmu dan membawamu pulang, untuk apa? Untuk dirawat dan dilindungi dari ketakutanmu dan kebingunganmu di luar sana. ..Tak seorangpun ingin tersesat..andai saja engkau tahu waktu itu bahwa jalan yang indah itu adalah benar..tapi ternyata engkau salah…Jika kau merasa demikian, janganlah takut..
Sebab sekalipun kau sudah tersesat..diamlah ditempatmu dan berserulah padaNya untuk menolongmu…Dia tidak akan membiarkanmu jauh dariNya…walau kadang kita yang tidak mendengarkan peringatperingatanNya dan melakukan kebenaran diri sendiri yang menurut kita adalah benar adanya..

Dan jika ternyata setelah Dia melihat dengan seksama di lubuk hatimu, di jiwa dan rohmu…dan ternyata, ada luka yang membesar dan bernanah..sesekali lalat busuk mendatangimu dan menjilat lukamu..sudah tidak terasa lagi sakitnya karena luka itu sudah tertutup dengan debu dan batu yang menempel di tubuhmu…..
Jika kau terluka..dengan tidak segan Dia akan langsung akan mengobati luka-lukamu, membersihkannya dengan air murni dan batu, pasir, debu yang melekat itu akan Dia ambil dengan hati hati…kadang sesekali engkau menjerit karena dagingmu ikut terkelupas saat Dia hendak mengambil batu yang bercampur dengan nanah membusuk…Setelah selesai dibersihkanNya….Dia akan membalutnya dengan hati hati sekali…agar kau tidak kesakitan..kadang engkau memang sangat kesakitan…dan menjerit dengan histeris, engkau memegangi tanganNya dan mengatakan “ jangan lakukan ini…sakit..sakit..aku tak tahan…” tapi Dia akan tetap melakukannya walau seringkali engkau juga melihat air mataNya meleleh karena raungan hatimu yang menyanyat hati kecilNya….karena Dia mengasihimu…

Setelah engkau menjadi sembuh, engkau bersukacita sekali dan badanmu mulai kuat dan sehat, serta menggemuk…ya, disaat itupun, engkau akan tetap dikuatkanNya agar engkau tidak jadi lamban dalam bergerak karena kekuatanmu sendiri yang justru menghambat engkau sempurna dalam kekuatanNya…..
Percayalah sahabat… Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan engkau. Dia akan menggembalakan engkau sebagaimana seharusnya..sebab Dia Gembala yang baik…..
Selengkapnya...

Rabu, 14 Juli 2010

Ketika garam kehilangan asinnya

“Kamu adalah garam dunia, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat. 5:13).

Mahadma Gandhi pernah sangat kecewa kepada orang Kristen di India karena sikap mereka yang sangat arogan dan suka membeda-bedakan. “Aku bersimpati kepada ajaran Yesusmu, akan tetapi sangat muak dengan cara hidupmu,” ucap tokoh negeri Sungai Gangga yang dikenal di seantaro dunia ini.

Mengapa banyak orang kecewa terhadap gereja? Terhadap pengikut Kristus yang seharusnya menjadi batu lompatan untuk mengenal Kristus? Mengapa mereka tidak dapat melanjutkan ketertarikan mereka kepada Kristus saat mereka melihat cara hidup orang-orang yang menamakan diri sebagai pengikut Kristus?

Pembaca terkasih, malam ini firman Tuhan mengingatkan kembali inti keberadaan kita di atas muka bumi ini. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam kehilangan asinnya tidak ada gunanya lagi kecuali dibuang dan diinjak-injak orang,” demikian pesan Tuhan Yesus.

Pada zaman itu, garam yang dipakai untuk memasak menempel pada suatu media yang bisa berupa bunga karang atau lainnya. Setiap kali garam dipakai dimasukan ke dalam tempat yang telah disediakan sebagai wadah memasak. Ketika garam yang menempel di bunga karang itu habis, maka media tersebut akan dibuang. Mengapa demikian? Karena manfaatnya telah tiada. Tinggal sisa-sisa yang tidak ada gunanya lagi!

Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, seberapa besarkah tekad kita untuk menjadi sarana-Nya sehingga olehnya banyak orang yang datang kepada Dia? Sudahkah kita memahami rencana-Nya bagi dunia ini yaitu agar segenap lutut bertelut dan mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah bapa!

Tuhan ajari aku selalu mengerti maksud-Mu. Bimbing aku supaya berhasil menggarami dunia ini.
Selengkapnya...

Senin, 12 Juli 2010

Mengakui untuk diampuni

"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."
(1 Yohanes 1:8-9)


Sahabatku, hidup setiap manusia pasti tidak pernah lepas dengan yang namanya dosa. Semua manusia pasti pernah melakukan dosa, tidak ada kecuali. Dan menurut 1 Yohanes 1:8 jika ada orang yang mengaku dirinya suci dan tidak pernah berdosa, sebenarnya dia menambah dosanya sendiri dengan berdusta, dan yang pasti kebenaran di dalam Tuhan tidak ada di dalam dirinya.

Terkadang orang berpatokan dengan yang namanya dosa berdasarkan besar kecilnya, atau berdasarkan berapa besarnya dampak yang timbul dari dosa tersebut. Padahal tidak seperti itu, Tuhan ga pernah melihat dari besar kecilnya dosa, besar kecilnya dosa tetap saja namanya dosa, dan saat ada dosa berarti kita ga layak di hadapan Tuhan.

Bahkan sekarang ini banyak orang yang merasa mungkin dirinya sudah sangat berdosa kena dibodohi sama iblis. Iblis terkadang menghasut setiap kita yang terjatuh dalam dosa dengan mengatakan kalau kita sudah tidak layak di hadapan Tuhan, dan akhirnya terus terjatuh semakin dalam ke dalam dosa. padahal ada jalan keluar dan pengampunan untuk dosa-dosa kita.

Pengampunan dan keselamatan adalah kasih karunia yang Tuhan sediakan untuk setiap kita. Ada hal yang harus dilakukan untuk kita bisa mendapat pengampunan dari Tuhan. Dalam 1 Yohanes 1:9 Tuhan kasih tau caranya untuk kita. Dari Firman itu Tuhan ingin kita bisa mengakui kesalahan kita di hadapan Tuhan atau pun hamba Tuhan yang dipakai olehNya untuk membawa pemulihan untuk kita.

Dengan kita mengakui dosa dan kesalahan kita, berarti kita mau merendahkan diri kita dan bersungguh-sungguh ingin berubah. Saat kita terbuka dan membuka hati kita, melepaskan semua dosa dan kesalahan kita, pengampunan Tuhan ada untuk setiap kita. Sebesar apapun dosa yang kita lakukan kalau kita mengakuinya, pasti ada pengampunan untuk kita.

Yang penting saat kita mengakui setiap dosa dan kesalahan kita, harus diikuti perubahan yang nyata dalam hidup kita, bukan cuma mengakui saja tapi ga ada perubahan real, itu mah sama aja boong kan.

Dan saat kita mau mengakui dan membereskan dosa dan kesalahan kita, Rancangan Tuhan akan bekerja nyata dalam hidup kita, bahkan terkadang Tuhan bisa pakai orang yang dipandang sebelah mata sama orang lain untuk menjadi alatNya melayani Dia secara luar biasa.

Apakah kamu rindu mengalami suatu transformasi terjadi dalam kehidupanmu tahun ini? Rendahkan dirimu dan bereskan semua di hadapan Tuhan, dan hiduplah selalu dalam pimpinanNya, aku percaya tahun ini adalah tahun yang luar biasa kan kamu jalani di dalam pimpinan Tuhan Yesus.
Selengkapnya...

Sabtu, 10 Juli 2010

Kehidupan yang berarti

Berapa umur anda saat ini?
20 tahun, 30tahun, 40tahun atau bahkan 5 tahun…
Berapa lama anda telah melalui kehidupan anda?
Berapa lama lagi sisa waktu anda untuk menjalani kehidupan?
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan. Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.

Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita membantu kepada sesama.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa .. Kehidupan adalah … dll.

Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani.
Berapa tahun anda telah melalui kehidupan anda ?
Berapa tahun anda telah menjalani kehidupan rutinitas anda ?

Pandanglah di sekeliling kita…ada segelintir orang yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesamanya

Bersyukurlah pada-NYA setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah.

Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.
Selengkapnya...

Kamis, 08 Juli 2010

Love or smackdown?

Jika hubunganmu berubah jadi abusive relationship

“Udah berapa kali gua bilang, kalo gua nggak suka lu kayak gitu!”, kata Adam setengah berteriak.

“Sorry, gua pikir nggak bakal seperti itu…” jawab Ester sambil memelas.

Plak! plak! tahu-tahu Ester udah jatuh di lantai, ditampar Adam.

Temen-temen yang ada di sekitar situ nggak ada yang berani ikut campur, soalnya kan itu urusan mereka berdua. Paling-paling mereka pada bisik-bisik, tanda nggak setuju sama apa yang baru aja mereka lihat.

Ester lari, pergi dari tempat itu sambil nutupin mukanya, dia nangis…, lalu Adam ngejar di belakangnya.

Aduh… kaget juga ngeliatnya. Perasaan jadi ikut nggak enak, bahkan sampe pulang ke rumah suasana masih kebawa di pikiran. Kok bisa, ya? Kalo hubungan yang seperti itu diterusin terus bakalan kayak apa, ya? Kok Ester nggak udahan aja sama Adam sih? Lebih bingung lagi waktu ngomongin soal ini sama temen-temen, mereka bilang pacaran yang kayak gitu nggak cuma antara Adam dan Ester aja, mereka bilang pernah suatu kali si Ayu dateng ke kampus dalam keadaan biru-biru lengan dan pipinya. Setelah dikorek-korek, ternyata habis dipukulin ama Bambang, cowoknya! Si Sinta lain lagi, temen-temen bilang kalo dia justru yang sering ngancem-ngancem Roi pake pisau segala kalau lagi berantem. Kasihan si Roi, dia bingung. Kalo mau diputusin…, si Sinta ngancem mau bunuh diri segala. Bahkan waktu baca koran, ada juga artis Kristen yang nikah sama orang yang ngaku-ngaku pendeta, eh… ternyata suka gebukin isteri dan anaknya.

Wah… wah…, nggak cowok, nggak cewek, ternyata semua sama-sama gawat. Kayaknya itu udah bisa dibilang ada kelainan jiwa, bisa juga karena pengalaman masa lalu atau hati yang penuh luka. Gimana ya cara mengenali gejala-gejala yang seperti ini? Kan nggak lucu, maksudnya mau sayang-sayangan, eh… malah jadi smackdown-smackdown-an. Ternyata ada ahli kejiwaan yang bilang bahwa hubungan seperti itu tadi namanya abusive relationship. Abusive relationship ini ada beberapa jenisnya:

Penganiayaan fisik

Tindakan langsung yang berhubungan sama fisik pasangannya, seperti mendorong, menampar, mencekik, dsb. Bisa juga ngelempar barang-barang ke arah pasangannya, atau mengancam dengan senjata tajam.

Penganiayaan seks

Memaksa pasangannya buat ngelakuin sesuatu yang berhubungan dengan seks.

Penganiayaan mental

Menekan pasangannya sedemikian rupa sehingga menderita secara emosional. Caranya, bisa dengan ancaman pembunuhan/bunuh diri, mengambil alih kontrol hubungan pasangannya dengan orang lain (teman-temannya), dan juga lewat mengulang-ulang perkataan yang merendahkan pasangannya.

Pemaksaan

Sering memaksa pasangannya untuk melakukan hal tertentu dalam waktu tertentu tanpa alasan yang benar, misalnya nggak boleh keluar rumah selama sekian lama sebagai hukuman, dsb.

Suka menghancurkan barang-barang di sekitarnya.

Biasanya orang yang punya bakat kayak gitu punya ciri-ciri: cemburu yang berlebihan, selalu pengen tahu dan curiga sama kegiatan pasangannya, suka mengontrol kehidupan pasangannya, marah bila pasangannya meluangkan waktu buat orang lain sekali pun untuk keluarga, memaksa keinginannya untuk selalu dipenuhi, cenderung selalu menyalahkan orang lain buat masalah yang dihadapinya, sangat sensitif, sering menyendiri dan hidup terisolasi, suka berlaku kasar terhadap binatang dan pasangannya, suka ngelontarin kata-kata kasar kepada pasangannya, punya kepribadian yang berbeda-beda, punya pengalaman jelek di masa lalu.

Kalo sampe ada teman atau pasangan kita ada yang punya kecenderungan seperti itu, sebaiknya cepetan deh konseling sama orang yang bisa nanganin hal-hal seperti ini. Kalo doi nggak mau konseling, dan juga nggak mau berubah, jangan ragu-ragu buat memutuskan hubungan sedini mungkin sebelum terlalu jauh. Karena kalau dia sendiri nggak mau menyadari keadaannya dan nggak mau dibantu buat berubah, wah.. bisa-bisa kita ikut ketularan gila.

“Maapin gua ya, say”, ujar Adam. Kali ini suaranya sedikit pelan sambil membelai rambut Ester. Cewek mana sih yang tahan ama belaian cowok ganteng kayak Adam? Meski rada galak, tapi kadang dia bisa bersikap romantis…, tapi… apa jawab Ester?

“…Adam,” Ester menghapus air matanya, “..saya pikir, sebaiknya kamu ikut konseling atau pergi ke psikiater. Kalo kamu nggak mau,… sebaiknya hubungan kita sampai disini saja.”
Selengkapnya...

Selasa, 06 Juli 2010

Beata Kateri Tekhakwitha : Kasih yang besar kepada sesama

Kateri adalah seorang putri Indian dari suku Mohwak. Ia dilahirkan pada tahun 1656, di sebuah dusun dekat Ossernenon (sekarang: Auriesville), di wilayah New York. Ayahnya adalah seorang Kepala Suku Mohwak dan ibunya seorang kristen dari suku Algonquin. Namun, kebahagiaannya bersama keluarganya tidak lama dirasakan Kateri. Wabah cacar menyerang dusun mereka ketika ia berusia empat tahun. Kedua orangtua beserta adik laki-lakinya meninggal karena wabah tersebut. Kateri sendiri berhasil diselamatkan, namun wajahnya menjadi bopeng karena luka-luka bekas cacar. Selain itu, penglihatannya menjadi terganggu sehingga ia sering menabrak barang-barang yang ada di sekitarnya, karena itu ia diberi julukan "Tekakwitha" (artinya: dia yang sering menabrak barang-barang). Kateri seringkali menderita depresi karena keadaannya ini.

Setelah musibah ini Kateri pindah ke sebuah dusun dekat Fonda (sekarang: Caughnawaga), di wilayah New York. Ia tinggal bersama dengan bibi dan pamannya, seorang Kepala Suku Kelompok Kura-Kura. Suatu saat ketika Kateri berusia sebelas tahun, tiga misionaris Jesuit yang berasal dari Perancis mengunjungi tempat tinggal mereka. Inilah perkenalan pertama Kateri dengan para misionaris. Kehadiran mereka sangat menyentuh hati Kateri sehingga ia ingin juga menjadi seorang kristen. Namun, peraturan yang berlaku saat itu di suku Mohwak menyatakan bahwa seseorang baru boleh memilih agama mereka pada usia sembilan belas tahun. Kateri menanggung banyak penghinaan dan kritikan selama delapan tahun karena kepercayaannya ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Pada tahun 1675 Kateri mengungkapkan keinginannya untuk dibaptis meskipun ditentang keras oleh pamannya. Akhirnya pada Hari Minggu Paskah tahun 1675, ketika berumur dua puluh tahun, Kateri dibaptis oleh Romo Jacques de Lamberville, seorang imam Perancis.

Kateri berkaul untuk hidup murni bagi Tuhan, namun keluarga dan masyarakat di sekitarnya tidak bisa menerima hal ini. Ketika Kateri menolak lamaran seorang pria karena keinginannya untuk hidup murni, paman dan bibinya menjadi sangat marah. Mereka kemudian mengusir Kateri ke tengah hutan. Kateri tinggal sendiri di sebuah pondok di tengah hutan. Namun, justru di tempat itu, ia menjadi semakin rajin berdoa. Suku Indian dimana Kateri tinggal bukanlah orang kristen dan hanya Kateri satu-satunya orang kristen di sana. Oleh karena itu, mereka tidak mengerti dan tidak bisa menerima keputusan Kateri untuk hidup murni bagi Tuhan. Karena Kateri tetap berpegang pada imannya, mereka memperlakukan Kateri seperti seorang budak. Orang-orang Indian yang lain juga seringkali melakukan kekerasan dan berlaku jahat kepada Kateri karena agama kristen yang diimaninya. Kateri menerima semua perlakuan tersebut dengan semangat cintakasih. Ia tetap menaruh cintakasih terhadap mereka yang berbuat jahat kepadanya, bahkan berdoa rosario setiap hari bagi mereka.

Karena mengkuatirkan keselamatan Kateri, Romo Jacques menasihati Kateri untuk meninggalkan Kelompok Kura-Kura dan bergabung dengan Kelompok Indian Kristen di Dusun Caughnawaga, Kanada, yang disebut Kelompok Misi St. Fransiskus Xaverius. Kateri menempuh perjalanan sejauh 200 mil (± 322 km) melewati daerah-daerah liar untuk sampai di tempat ini.

Di tempat pengungsiannya ini, pada Hari Raya Natal tahun 1677, Kateri menyambut komuni yang pertama. Ini merupakan hari yang membahagiakan dalam hidupnya, yang memberinya kekuatan dan penghiburan. Kemudian, Pater Pierre Cholonec (seorang pater Jesuit) membimbing hidup rohani Kateri. Di tempat ini pula Kateri membaktikan seluruh hidupnya bagi Allah dengan merawat orang-orang tua dan orang miskin. Ia hidup bersama dengan Anastasia (seorang wanita Iroquois) sebagai orang kristen yang penuh sukacita dan pelayanan kepada sesama. Kateri juga seringkali berpuasa dan bermatiraga. Penyerahan diri Kateri secara total membuat banyak orang di sekitarnya tersentuh dan menjadi kristen. Mereka menyebut Kateri sebagai "bunga bakung dari Mohwak" (bunga bakung merupakan lambang kemurnian). Ia sangat disenangi oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya dan terkenal karena kelembutan, keramahan, dan kebaikan hatinya. Pada tanggal 25 Maret 1679, Kateri mengucapkan kaul keperawanannya.

Di tempat yang baru ini Kateri memang tidak lagi diperlakukan dengan buruk dan jahat, namun ternyata penderitaannya masih berlanjut. Kesehatannya kian hari kian memburuk. Ia seringkali menderita sakit kepala dan sakit perut yang hebat. Akhirnya Kateri meninggal pada tanggal 17 April 1680, satu bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-25. Ketika Kateri meninggal dunia, imam dan semua yang hadir menyaksikan suatu keajaiban. Saat jiwanya yang suci itu meninggalkan dunia, wajahnya yang dulu bopeng berubah menjadi bersih dan memancarkan kecantikan jiwanya.

Kateri kemudian dimakamkan di Quebec, Kanada. Beberapa saat setelah kematiannya, terjadi beberapa mujizat karena perantaraan doanya. Orang-orang Indian kristen dan orang-orang Perancis yang ada di sekitarnya seringkali mengunjungi makam Kateri. Pada tahun 1932, Gereja mulai mengadakan penyelidikan untuk proses kanonisasi Kateri. Tepat tiga ratus tahun kemudian, pada tahun 1980, Kateri dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Kateri adalah orang Indian Amerika yang pertama kali digelari kudus di dalam Gereja. Pestanya dirayakan pada tanggal 14 Juli. Beata Kateri menjadi pelindung bagi mereka yang diolok-olok karena cacat atau kekurangan mereka.


TELADAN HIDUP BEATA KATERI

Kasih yang besar kepada sesama
Sejak masa kecilnya Beata Kateri hidup dalam keluarga yang penuh dengan kasih karena didikan ibunya yang seorang Indian Kristen. Hal ini membuat Kateri juga menjadi pribadi yang penuh kasih terhadap orang lain. Bahkan, ketika ia mendapat perlakuan buruk dari keluarganya sendiri, ia tetap mencintai mereka. Begitupun ketika orang-orang Indian di sekitarnya berlaku jahat kepadanya, ia tetap menerima semua perlakuan mereka dengan penuh cintakasih. Inilah keistimewaan Beata Kateri. Banyak orang yang terkesan dan menjadi kristen karena melihat sikapnya yang penuh kasih kepada orang lain.

Semangat pelayanan dan berkurban
Kasih yang ada dalam diri Kateri juga terlihat dari pelayanannya kepada sesama. Kateri yang telah bertekad untuk hidup murni, membaktikan seluruh hidupnya untuk merawat orang-orang tua dan orang miskin. Ia juga senantiasa berpuasa dan bermatiraga. Ia rindu untuk selalu menyenangkan hati Allah melalui segala pelayanan dan kurbannya.

Iman yang teguh akan Kristus
Iman yang ada dalam diri Kateri sangat kuat dan teguh. Segala penghinaan dan tantangan yang ia terima tidak menggoyahkannya. Meskipun seluruh keluarga paman dan bibinya tidak setuju dan mengucilkan dia, namun Kateri dengan berani tetap bertahan. Baginya Kristus adalah segala-segalanya. Kristus adalah tujuan hidupnya dan kerinduan hatinya. Sehingga apa pun yang ia hadapi, Kateri tetap berpegang teguh pada imannya akan Kristus.

Tegar dan tabah
Meskipun Kateri seorang perempuan, namun ia adalah seorang yang sangat tegar dan tabah. Ini terlihat ketika ia harus menghadapi sikap dari orang-orang Indian yang lain ketika Kateri memutuskan untuk menjadi seorang kristen. Iman dan kepercayaannya akan Allah membuat Kateri tetap tegar dan tabah menghadapi segala kesulitan yang ia hadapi.
Selengkapnya...

Minggu, 04 Juli 2010

Mengatasi rasa kecewa

Kekecewaan merupakan reaksi atas ketidaksesuaian antara harapan, keinginan dengan kenyataan. Rasa kecewa bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari hal-hal yang kelihatannya sangat biasa, menjadi besar dan akhirnya menyiksa perasaan.

Faktor penyebab utama timbulnya kekecewaan ialah karena target yang kita tentukan terhadap sesuatu atau seseorang tidak terpenuhi, sehingga seringkali kita ingin menyalahkan sesuatu atau menghakimi orang lain.

Sejatinya, hidup itu selalu bersinggungan dengan masalah, ketidaksesuaian dan kekecewaan juga merupakan masalah. Ketika kita berharap kepada apa pun dan siapa pun, bersiaplah untuk kecewa karena kemungkinan harapan tidak sesuai kenyataan itu selalu ada dan setiap orang pasti pernah mengalami kekecewaan. Melampiaskan rasa kecewa, semua orang pasti bisa melakukannya. Namun, mengatasi, mengantisipasi dan menyikapi rasa kecewa, siapkah kita? Kesiapan kita menghadapi kemungkinan gagal merupakan salah satu indikasi kesiapan kita menghadapi kekecewaan.

Tapi jika kita terlanjur dikecewakan ada beberapa hal yang patut kita renungi, kita resapi dengan kejujuran hati dan kita lepaskan dengan keikhlasan.

Sekecil apa pun, seberat apa pun, kecewa itu harus diatasi, disembuhkan dan dihilangkan karena itu akan menjadi ganjalan perasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik juga psikis kita. Kekecewaan yang tersimpan, mendalam dan terpendam dapat menumbuhkan dendam dan penyakit kronik. Karena itu, kematangan spiritualitas, kecerdasan emosi, serta keterbukaan pikiran diperlukan untuk mengelola rasa kecewa. Tips berikut dapat membantu mengatasi rasa kecewa.

1. Keluarkan uneg-uneg dengan curhat kepada orang yang paling membuat kita nyaman dan bisa dipercaya. Sahabat, keluarga atau seorang profesional yang bertanggung jawab terhadap kode etik profesinya. Mencurahkan perasaan dengan ngobrol merupakan salah
satu cara berkomunikasi yang baik untuk mendapatkan pencerahan atas masalah yang kita hadapi. Masalah yang kita anggap berat kadang-kadang bisa dipecahkan dengan sharing pikiran dan perasaan dengan orang lain.

Sudut pandang yang berbeda tentang sebuah masalah, saran dan masukan orang lain bisa menjadi alternatif penyelesaian. Paling tidak, beban yang kita rasa berat bisa berkurang dengan adanya orang yang mau mendengar curhat kita. Berkaitan dengan hal ini, konsultasi
psikologis, mengikuti kajian rohani, berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau menyibukkan diri dengan kegiatan hobi yang positif bisa menjadi alternatif pemecahan sekaligus membantu membuang energi negatif dari rasa kecewa kita.

2. Menumpahkan segenap perasaan dengan menulis, umumnya menulis diary. Hal ini tentu sangat membantu menyalurkan perasaan bagi para pribadi yang terkategori tertutup. Menulis bisa membebaskan diri dari tekanan yang memenuhi perasaan dan pikiran karena kita mampu
menuliskan detail perasaan dan pikiran kita, secara bebas, tanpa takut diketahui orang lain, sehingga perlahan-lahan akan timbul kelegaan, pencerahan dan di lain waktu menjadi inspirasi untuk mencari sumber masalahnya hingga penyelesaiannya.

Dalam sebuah penelitian, seorang ahli saraf Universitas California, Dr. Mathew Lieberman menyatakan bahwa mengekspresikan perasaan lewat tulisan merupakan pengaturan emosi yang tanpa disengaja, terutama dalam keadaan sulit. Menurut penelitiannya terhadap 30 kinerja otak pasiennya, menulis akan mengurangi aktivitas amygdala (bagian otak yang terhubung dengan emosi dan ketakutan), serta akan meningkatkan aktivitas bagian depan korteks (pengatur pikiran), sehingga menulis akan mengurangi tekanan pada otak dan menjaga keseimbangan mental.

Menulislah untuk mencurahkan perasaan, kemudian menulislah untuk melupakan, dan lanjutkanlah menulis untuk mencari penyelesaian. Diary atau buku harian bisa menjadi acuan untuk memotivasi diri menyelesaiakan masalah, termasuk kekecewaan.

Kita dapat mengambil sisi yang sesuai dari permasalahan yang berhasil diselesaikan di masa lalu. Memang, satu solusi tidak akan menyelesaikan setiap masalah, tetapi paling tidak kita bisa mengambil strategi pengambilan keputusan disaat itu untuk dijadikan acuan di saat menghadapi masalah yang sekarang.

3. Rekreasikan hati dan pikiran kita dengan kegiatan yang bisa membuat kita rileks dan fun. Kekecewaan yang dalam tidak dapat dihilangkan secara instan, apalagi jika kita tergolong orang yang gemar memelihara luka. Diperlukan pengalihan perhatian yang bersifat positif, menyenangkan, melupakan, bahkan lama-lama bisa menyembuhkan. Carilah kegiatan yang bisa merelaksasikan pikiran, membuat kita tenang dan senang. Misalnya menekuni hobi, mencari suasana baru dengan rekreasi ke tempat favorit atau ke tempat-tempat wisata yang menenangkan, berolahraga, mengisi TTS , membaca buku-buku yang bermanfaat atau bermain catur yang bisa menjadi gizi buat otak kita juga. Relaksasi bisa mengembalikan energi posititf yang dapat mengembalikan kesegaran pikiran juga mengurangi tekanan beban perasaan.

4. Bersabar, belajar untuk ikhlas dan memaafkan. Melakukan ketiga hal ini memang tak semudah melakukannya. Namun, hidup dan hati kita juga perlu dituntun dan dituntut untuk menjalani yang terbaik, berdamai dengan kenyataan. Dengan ketiga hal ini, kita juga bisa mulai
berpikir jernih sekaligus berintrospeksi. Mungkin saja kekecewaan yang kita rasakan merupakan akibat dari terlalu besarnya tuntutan kita terhadap orang lain, sehingga orang lain tidak mampu memenuhinya.

Bisa saja kita kecewa karena terlalu muluknya harapan kita terhadap sesuatu, sehingga seringkali kita merasa terpukul ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, menyalahkan keadaan bahkan menyalahkan orang lain. Kekecewaan akan terasa berat karena ketidakikhlasan kita menerima kenyataan.

Memaafkan dapat melegakan dan menenagkan perasaan karena berarti kita juga bisa menerima kekurangan orang lain sekaligus mematikan potensi mendendam. Keikhlasan dan kesabaran akan menuntun kita kepada kesadaran bahwa di suatu waktu dan di suatu tempat pasti ada yang terbaik untuk hidup dan hati kita. Yang penting kita terus berusaha untuk tidak kehilangan tongkat dua kali, sehingga tidak jatuh dua kali ke lubang yang sama.

5. Berbicara kepada Tuhan sebagai Pencipta yang berkuasa membolak-balikkan hati kita. Tuhan tak pernah meminta balasan, tempat curhat yang paling aman, nyaman dan penuh kejujuran. Mungkin kita baru bicara kepada-Nya ketika hati tak lagi mampu bertahan. Merengek meminta belas kasihan, memohon kemudahan, ketika kita kehabisan.

Hanya karena satu masalah, kita merasa lelah. Pada satu masalah, kita sering menyerah. Tersungkur dalam tangis dan keluh yang panjang. Satu ujian, satu cobaan, bahkan satu peringatan pun sering membuat kita lalai, membiarkan hati kita tersiksa dalam rasa putus asa, dan mulut kita membisu untuk mengajak-Nya berbicara.

Ketika Tuhan mengajak kita bicara dalam bahasa bencana, irama musibah dan bingkai masalah, barulah kita meminta, mendekat dan berbicara kepada Tuhan. Melalui tangis taubat dan permohonan, kita dapat meluruhkan keakuan, kesombongan dalam kesadaran akan ketidakberdayaan, menanti uluran tangan Tuhan. Kekuatan hati dan keyakinan pada Yang Mencipta inilah yang akan menjadikan kita tegar menghadapi masalah dan menyikapi segala bentuk kekecewaan. Kembalikan semua permasalahan kepada Pemilik Kehidupan. Tuhan lah sebaik-baik tempat meminta, penghabisan penyerahan dan kepasrahan diri, maka sertakanlah Tuhan dalam setiap langkah, berdoalah dalam setiap keadaan karena doa merupakan obat mujarab untuk melepaskan segala beban bahkan mampu mengubah keadaan.

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa menyadari kehadiran-Nya di setiap hela nafas kita.


di setiap hela nafas kita.
Selengkapnya...